Friday, August 14, 2026

Cahaya di Bulan Rabiul Awal 1448 H

 


Tidak terasa, waktu terus berjalan, dan kini kita sudah memasuki bulan Rabiul Awal 1448 H. Bagi umat Islam, bulan ini memiliki tempat yang sangat istimewa di dalam hati.

Kata "Rabiul Awal" sendiri memiliki arti musim semi. Mengapa disebut musim semi? Hal itu karena pada bulan inilah lahir manusia paling mulia, pembawa pencerahan bagi seluruh alam, yaitu Kanjeng Nabi Muhammad . Kehadiran beliau bagaikan musim semi yang membuat bumi kembali hidup, hijau, dan penuh harapan setelah lama tertutup kegelapan.

  • Mengenal Sosok Teladan Kita: Kanjeng Nabi Muhammad

Ketika berbicara tentang Kanjeng Nabi Muhammad , kita sedang membahas sosok manusia yang paling lembut hatinya, jujur, dan penuh kasih sayang. Jauh sebelum diangkat menjadi nabi, beliau sudah dikenal sebagai orang yang sangat terpercaya hingga mendapat julukan Al-Amin.

Saat beliau lahir, dunia yang tadinya kacau dan penuh keburukan perlahan-lahan berubah. Beliau mengajarkan cara menyembah Allah yang benar, memanusiakan manusia, dan berbuat baik kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang memusuhi beliau sekalipun.

Bahkan, Allah memuji akhlak beliau dalam Al-Qur'an:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki budi pekerti yang agung."        (QS. Al-Qalam: 4)

  • Menghidupkan Semangat Rabiul Awal 1448 H dalam Kehidupan Nyata

Menyambut Rabiul Awal 1448 H dengan penuh khidmat menuntut kita untuk menerjemahkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad ke dalam tindakan nyata sehari-hari. Beberapa langkah penting yang bisa kita lakukan meliputi:

  1. Menghidupkan Sunnah dalam Keseharian. Cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ tidak cukup hanya diikrarkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan mengikuti jejak langkahnya. Hal ini bisa dimulai dari adab berpakaian, cara berbicara, kepedulian terhadap tetangga, hingga kejujuran dalam bermuamalah.

  2. Memperbanyak Shalawat sebagai Bentuk Rindu. Penyelenggaraan majelis shalawat yang semarak di bulan ini merupakan wujud kerinduan kolektif umat. Mengumandangkan shalawat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah  sekaligus membuka pintu syafaat Baginda Nabi di hari kiamat kelak.                                                       

  3. Mengkaji Ulang Sirah Nabawiyah. Membaca kembali kisah hidup dan perjuangan Rasulullah akan memberikan keteguhan mental serta spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan hidup di era modern 1448 H ini.

  • Puisi Penutup: Permata Hati di Bulan Rabiul Awal

Di ufuk malam angin berbisik syahdu,

Membawa sejuk ke dalam ruang rindu.

Tanda musim semi tiba di beranda dunia,

Membawa damai yang menyapa jiwa.

Selamat datang, Rabiul Awal yang suci,

Bulan tersenyum menyambut sang matahari.

Bulan di mana bumi bergetar penuh bahagia,

Kala lahirnya Nabi pembawa pelita cahaya.

Duhai Kanjeng Nabi Muhammad, permata semesta,

Wajahmu bak rembulan yang menyejukkan mata.

Engkau hadir membawa cinta kasih nan abadi,

Mengusir gulita, menuntun hati kembali suci.

Tutur katamu adalah embun penawar lara,

Langkah kakimu adalah teladan sepanjang masa.

Akhlakmu adalah ayat-ayat suci yang nyata,

Menghidupkan asa di setiap relung dada.

Ya Rasulullah, meski raga tak pernah bersua,

Cinta ini mengalir deras di dalam dada.

Izinkan kami berjalan di bawah panji sunnahmu,

Hingga kelak berlabuh dalam damai syafaatmu.

  • Penutup

Semoga kehadiran bulan Rabiul Awal 1448 H menjadi titik balik bagi kita semua untuk memperbaiki diri, memperkuat ikatan spiritual dengan Sang Pencipta, serta meneladani akhlak mulia Baginda Kanjeng Nabi Muhammad secara menyeluruh.

Oleh: Nabil

Wednesday, August 12, 2026

Belajar Dari Senja


 “PRITTT…!”

Suara peluit ditiup. Terlihat sekumpulan anak sedang bermain bola di lapangan. Sore itu, suasana yang indah membuat hati terasa tenang. Setelah melewati siang yang panas, mereka sangat antusias untuk bermain.

“GOLLL…”

Terdengar suara mereka yang bersorak gembira.

“PRITT…”

Suara peluit tanda permainan selesai terdengar. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

“Kamu hebat banget Janu!” ucap Rayyan.

“Hehe, kamu juga hebat kok,” balas Janu.

“Hebat apanya? Kan aku wasit,” kata Rayyan.

“Ya, berarti kamu wasit yang hebat,” jawab Janu.

Mereka pun tertawa bersama sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Rayyan disambut hangat oleh ibunya.

“Ehh… pangeran kecilku sudah datang,” ucap Ibu sambil memeluk anaknya.

“Tadi gimana main bolanya? Seru?” tanya ibunya.

“Seru, walau aku cuma jadi wasit,” jawab Rayyan.

“Emang kenapa?” tanya ibunya sambil mengelus rambut anaknya.

“Hehe, kan kalau wasit nggak bisa ikut main,” jawab Rayyan sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa kok. Yang penting kan kamu tetap senang,” jawab Ibu sambil memencet hidung kecil anaknya.

Akhirnya, mereka pun duduk bersama di teras rumah sambil menikmati indahnya mentari senja dan ditemani hembusan angin sepoi-sepoi.

“Rayyan tahu nggak? Kita bisa belajar dari senja, lho,” kata Ibu.

“Belajar dari senja?” tanya Rayyan, tidak paham.

“Iya, kita belajar dari senja,” jawab Ibu.

“Maksudnya?” tanya Rayyan, tidak mengerti.

“Maksudnya, kamu bisa seperti mentari senja. Walaupun saat siang hari diabaikan, bahkan dibenci, ia tetap memberikan cahayanya yang terbaik saat senja. Ia tahu kalau ia sering diabaikan, tetapi ia akan tetap berusaha memberikan yang terbaik sebelum ia tenggelam. Seperti halnya kamu, walaupun kamu diabaikan, kamu harus tetap menjadi anak yang baik,” jelas Ibu.

Rayyan pun paham apa yang dimaksud ibunya. Ia tersenyum sambil menggenggam peluit merah di tangannya.

Ia pun mendapat pelajaran. Bahwa, walaupun sering diabaikan, kita masih bisa memberikan yang terbaik di akhir. Dengan begitu, suatu saat kita tidak akan terabaikan lagi.

Oleh: Azami


Friday, August 7, 2026

Memahami Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Apa perbedaannya?

 


Setiap muslim hampir tidak pernah lepas dari ucapan Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm. Kalimat ini dibaca sebelum memulai berbagai aktivitas, mulai dari membaca Al-Qur'an, belajar, bekerja, hingga melakukan berbagai amal kebaikan. Di dalamnya terdapat dua nama Allah yang agung, yaitu Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm. Keduanya sama-sama berasal dari akar kata رَحِمَ (raḥima) yang berarti kasih sayang atau rahmat. Meskipun memiliki akar kata yang sama, keduanya mengandung makna yang berbeda dan saling melengkapi.

  1. Makna Ar-Raḥmān


Ar-Raḥmān (الرَّحْمٰن) berarti Yang Maha Pengasih. Nama ini menunjukkan keluasan rahmat Allah yang meliputi seluruh makhluk tanpa terkecuali. Semua makhluk merasakan kasih sayang-Nya, baik orang yang beriman maupun yang tidak beriman, manusia, hewan, maupun seluruh alam semesta.


Bentuk kasih sayang tersebut tampak dalam berbagai nikmat yang Allah berikan, seperti kehidupan, kesehatan, udara yang dapat dihirup, sinar matahari, hujan, rezeki, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Oleh karena itu, para ulama menjelaskan bahwa Ar-Raḥmān menggambarkan rahmat Allah yang bersifat umum dan mencakup seluruh ciptaan-Nya.


  1. Makna Ar-Raḥīm


Ar-Raḥīm (الرَّحِيم) berarti Yang Maha Penyayang. Nama ini menunjukkan rahmat Allah yang bersifat khusus, terus-menerus, dan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.


Rahmat ini berupa hidayah, taufik, kemudahan dalam beribadah, ketenangan hati, ampunan dosa, serta kenikmatan surga di akhirat. Allah berfirman:


وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا»


"Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab: 43)»


Ayat ini menunjukkan bahwa sifat Ar-Raḥīm memiliki kaitan yang sangat erat dengan kasih sayang Allah kepada orang-orang yang beriman.


  1. Persamaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Kedua nama tersebut sama-sama menunjukkan kesempurnaan sifat rahmat Allah. Tidak ada kasih sayang yang lebih sempurna daripada kasih sayang-Nya. Semua nikmat yang diterima makhluk merupakan bukti dari rahmat Allah, baik rahmat yang bersifat umum maupun rahmat yang bersifat khusus.


  1. Perbedaan Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm


Para ulama menjelaskan beberapa perbedaan pokok antara kedua nama tersebut:


- Ar-Raḥmān menunjukkan rahmat Allah yang sangat luas dan meliputi seluruh makhluk, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan rahmat yang khusus bagi orang-orang beriman.

- Ar-Raḥmān lebih menggambarkan keluasan sifat kasih sayang Allah, sedangkan Ar-Raḥīm menunjukkan kasih sayang yang terus diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

- Rahmat Ar-Raḥmān tampak pada berbagai nikmat kehidupan di dunia, sedangkan rahmat Ar-Raḥīm mencapai kesempurnaannya di akhirat berupa ampunan, keridaan, dan surga.


  1. Hikmah Penyebutan Keduanya dalam Basmalah


Allah menyebut kedua nama ini secara berdampingan dalam basmalah agar hamba-Nya memahami bahwa rahmat Allah sangat luas sekaligus memiliki bentuk rahmat yang istimewa bagi orang-orang yang beriman. Hal ini juga mengajarkan agar seorang muslim selalu berharap kepada kasih sayang Allah dalam setiap urusan, baik urusan dunia maupun akhirat.


Memahami perbedaan antara Ar-Raḥmān dan Ar-Raḥīm akan semakin menumbuhkan rasa syukur, harapan, dan cinta kepada Allah. Rahmat-Nya yang luas membuat setiap hamba tidak pernah berputus asa, sedangkan rahmat khusus-Nya mendorong setiap muslim untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan agar termasuk golongan yang memperoleh kasih sayang Allah di dunia dan akhirat. Dengan demikian, setiap kali mengucapkan basmalah, kita tidak sekadar melafalkan dua nama Allah, tetapi juga menghayati keluasan kasih sayang-Nya serta berharap memperoleh rahmat-Nya yang khusus. Oleh: Shofil


Tuesday, August 4, 2026

"Jujur Janggal": Emangnya Wajib Bilang "'Jujur'' Supaya Nggak Bohong?

 


Yaa kembali lagi di part bedah istilah Gen Z. Kalau kemarin kita sudah bahas tentang "when yh", sekarang kita bahas yang "jujur janggal", dan ini pure perspektif saya sendiri yaa.

Kenapa sih ada kata "jujur"? Apakah kalau tidak pakai kata tersebut berarti bohong? Ngga yaa. Kata jujur itu adalah kata penguat dalam menyatakan suatu hal. Sedangkan kata janggal adalah kata imbuhan saja yang tujuannya menarik perhatian para pendengarnya.


Anyway, ini hanya sekadar kreativitas Gen Z membuat istilah di medsos. Kalau kita amati lebih dalam, fenomena lahirnya kosakata baru seperti ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Setiap generasi selalu punya cara uniknya sendiri untuk menciptakan bahasa kelompok yang membuat mereka merasa memiliki ikatan khusus, sekaligus sebagai bentuk kebebasan berekspresi di ruang digital. Dulu mungkin kita mengenal istilah-istilah gaul era 90-an atau 2000-an awal, dan sekarang giliran Gen Z yang memegang kendali dengan racikan kata yang sering kali terdengar kontradiktif namun jenaka.


Kombinasi kata "jujur" dan "janggal" ini sendiri sebenarnya mencerminkan bagaimana anak muda sekarang suka mendramatisasi situasi secara komedik. Kata "jujur" dipakai untuk memberikan seolah-olah apa yang mereka katakan adalah sebuah kabar yang sangat valid. Lalu dipadukan dengan kata "janggal" yang justru memberi kesan kontras, seolah menyiratkan bahwa situasi atau perasaan yang sedang dibahas itu begitu luar biasa, unik, atau bahkan di luar nalar sampai-sampai bikin relate tapi juga mengernyitkan dahi.


Nah, kalau kita lihat dari sudut pandang anak-anak pesantren, fenomena bahasa gaul seperti ini sering kali jadi warna tersendiri di balik tembok asrama. Santri zaman now tidak melulu kaku; mereka juga paham tren medsos yang lagi seliweran. Bedanya, di lingkungan pondok, kreativitas bahasa ini biasanya bergeser menjadi pelipur lara yang khas. Misalnya: Jujur janggal, rasanya baru kemarin masuk pondok, eh sekarang sudah mau sembilan tahun aja mondoknya.


Meski begitu, dibalik keisengan memakai istilah-istilah gaul tersebut, para santri harus tetap punya rem tangan bernama adab. Mereka tahu kapan harus melemparkan candaan santai dengan frasa gaul saat bercengkrama dengan sesama teman, dan kapan harus kembali menggunakan bahasa yang santun saat menghadap guru atau Kiai.


Jadi, kalau ditarik benang merahnya, bahasa gaul ala Gen Z ini sebenarnya nggak perlu ditelan secara mentah-mentah atau sampai bikin pusing kepala. Mereka cuma sedang meracik bumbu komunikasi agar obrolan di media sosial terasa lebih santai, hidup, dan punya vibe yang asyik buat disimak bareng-bareng. Pada akhirnya, bahasa adalah makhluk yang hidup; ia akan terus bertumbuh seiring dengan cara kita beradaptasi dengan zaman.

Gimana menurut kalian? Apakah istilah "jujur janggal" ini sukses bikin obrolan makin seru, atau malah bikin kita geleng-geleng kepala tiap kali mendengarnya?


Finally, sampai jumpa di karya bedah istilah gen Z yang akan datang.

Oleh: Abid

Tuesday, July 28, 2026

Istiqamah: Tetesan Air yang Melubangi Batu



 


Pada suatu masa, hiduplah seorang thalibul ilmi yang telah sangat lama menuntut ilmu kepada seorang Kiai. Selama mondok, ia telah belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha semaksimal mungkin. Namun, ia merasa dirinya tidak juga menjadi pandai. Ilmu yang dipelajarinya terasa begitu sulit untuk dipahami sehingga ia mulai putus asa.

Pada suatu hari, ia berpikiran untuk sowan kepada sang Kiai guna meminta izin boyong. Meskipun sang Kiai telah berusaha menahannya dan menasihatinya agar tetap melanjutkan belajarnya, ia tetap bersikeras untuk boyong. Akhirnya, sang Kiai pun mengizinkannya untuk pulang.

Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Ia pun memutuskan untuk meneduh di sebuah tempat sambil menunggu hujan reda. Di sela-sela menunggu, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada sebuah batu yang berlubang hanya karena tetesan air dari atap yang terus-menerus mengenainya. Padahal, air adalah sesuatu yang cair, sedangkan batu merupakan benda yang keras. Namun, karena tetesan air itu terus-menerus jatuh pada tempat yang sama, akhirnya batu yang keras pun dapat berlubang.

Melihat kejadian tersebut, Allah ﷻ . membukakan hatinya untuk mengambil pelajaran. Ia pun sadar bahwa sesulit apa pun suatu perkara, apabila dilakukan dengan penuh kesabaran, konsisten, dan terus-menerus, maka pasti akan membuahkan hasil. Jika air yang lembut saja mampu melubangi batu yang keras karena istiqamah menetes, mengapa dirinya harus menyerah dalam menuntut ilmu?

Tanpa berpikir panjang, ia pun segera bergegas kembali ke pesantrennya dan sowan kepada sang Kiai untuk menyampaikan bahwa ia ingin kembali belajar di pesantren tersebut. Mendengar hal itu, sang Kiai pun tersenyum dan menerima kembali santrinya dengan penuh kebahagiaan.

Sejak saat itu, ia belajar dengan lebih bersungguh-sungguh, lebih sabar, dan lebih istiqomah dalam menuntut ilmu. Hari demi hari ia lalui dengan terus belajar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah ﷻ . Hingga setelah sekian lama, Allah ﷻ . pun membukakan hatinya atas ilmu yang dipelajarinya. Kelak, ia menjadi seorang ulama besar yang ilmunya memberikan manfaat bagi banyak orang.

Dari kisah ini dapat kita simpulkan bahwa sesulit apa pun suatu perkara, apabila dilakukan dengan konsisten, diiringi dengan doa serta tawakal kepada Allah ﷻ ., insyaallah akan membuahkan hasil. Jangan pernah meremehkan usaha yang kecil apabila dilakukan secara terus-menerus. Sebagaimana batu yang keras dapat berlubang hanya karena tetesan air yang tidak pernah berhenti, demikian pula kesuksesan akan menghampiri orang-orang yang tidak pernah berhenti berjuang.

Kisah ini juga sangat cocok dengan dawuh Abuya:

"Ora ono menungso lahir pinter, kita harus terus-menerus berjuang dan  pantang menyerah."

Selain itu, kisah ini juga selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ. 

(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dikerjakan secara terus-menerus (istiqamah), meskipun sedikit.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dapat diambil kesimpulan bahwa, jangan pernah merasa rendah diri apabila hari ini kita belum menjadi orang yang pandai. Bisa jadi kita memang belum sampai, bukan berarti tidak akan sampai. Yang terpenting adalah terus berusaha, istiqomah dalam belajar, pantang menyerah, serta senantiasa memohon pertolongan kepada Allah ﷻ . Sebab, kesuksesan bukan hanya milik mereka yang paling pintar, melainkan juga milik mereka yang tidak pernah berhenti berjuang.

Oleh: Anthony


Friday, July 24, 2026

Novel "Tentang Kamu" Karya Tere Liye

    Novel ini menceritakan tentang seorang pemuda pengacara dari London yang mencari ahli waris Sri Ningsih, seorang perempuan yang meninggalkan banyak sekali harta setelah kematiannya. Pemuda tersebut bernama Zaman Zulkarnain.

Zaman Zulkarnain ditugaskan untuk mencari ahli waris Sri Ningsih yang berasal dari Indonesia. Di dalam ceritanya, Zaman berkeliling dari desa ke desa, kota ke kota, pulau ke pulau, hingga negara ke negara. Ia menelusuri riwayat hidup Sri Ningsih dari tempat kelahirannya sampai tempat dimakamkannya.

Di pertengahan cerita, Zaman bertemu dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam kehidupan Sri Ningsih. Dari tokoh-tokoh tersebut, Zaman belajar bahwa di balik sebuah kesuksesan ada sesuatu yang harus dikorbankan.

Pada akhir cerita novel ini, Zaman telah mengetahui seluruh sejarah kehidupan Sri Ningsih. Ia juga berhasil mendapatkan harta warisan tersebut. Cerita ditutup dengan Zaman yang telah menemukan pasangan hidupnya di sebuah panti di Kota Paris, dan kehidupannya pun terus berlanjut.

Novel ini memiliki penggambaran cerita yang mudah dipahami. Perpaduan antara sejarah, ilmu pengetahuan, dan alur cerita utama membuat kisah ini lebih menegangkan, menyenangkan, sekaligus menambah wawasan pembaca.

Dari novel ini, kita mengetahui bahwa pelajaran yang biasanya dianggap membosankan dapat menjadi menyenangkan jika ditulis dengan brilian.

Oleh: Fathurrahman

Tuesday, July 21, 2026

Jejak di Ujung Sandal Kiai

 


Hujan baru saja berhenti ketika bel pesantren berbunyi. Santri-santri berlarian menuju masjid sambil mengangkat ujung sarung agar tidak terkena lumpur. Di antara mereka ada seorang santri bernama Zain. Ia dikenal cerdas, hafal banyak matan, dan selalu menjadi juara kelas. Namun, ada satu hal yang sering luput darinya: adab.


Baginya, ilmu adalah hasil kecerdasan dan kerja keras. Selama rajin belajar, menurutnya seseorang pasti akan berhasil.


Suatu pagi, Zain melihat sandal kiai terletak di serambi masjid. Beberapa santri dengan penuh hormat merapikannya agar tidak terkena air hujan. Zain hanya melirik sekilas.


“Kenapa harus repot mengurus sandal?” gumamnya pelan. “Yang penting kan belajar.”


Ucapan itu terdengar oleh Hasan, sahabatnya.


Hasan tersenyum.


“Belajar memang penting. Tapi adab kepada guru lebih dulu membuka pintu ilmu.”


Zain hanya tertawa kecil. Baginya, itu hanyalah kebiasaan orang-orang terdahulu yang terlalu berlebihan.


Hari demi hari berlalu.


Anehnya, semakin giat belajar, Zain justru semakin sulit memahami pelajaran. Hafalan yang dahulu mudah kini terasa berat. Kitab yang biasa ia baca berulang kali seakan kehilangan maknanya. Ia mulai mudah marah, sulit berkonsentrasi, bahkan sering lupa ketika diminta menjelaskan pelajaran di depan kelas.


Sementara itu, Hasan yang kecerdasannya biasa saja justru semakin berkembang. Penjelasannya mudah dipahami, hafalannya kuat, dan wajahnya selalu tampak tenang.


Zain mulai bertanya-tanya.


Suatu malam setelah mengaji, ia memberanikan diri menemui seorang kiai sepuh yang terkenal bijaksana.


“Yai,” katanya lirih, “saya belajar lebih lama daripada teman-teman saya. Saya membaca lebih banyak kitab. Tetapi mengapa ilmu terasa semakin jauh?”


Kiai itu tidak langsung menjawab.


Beliau justru bertanya,


“Ketika engkau mengambil air wudhu, dari mana engkau memulainya?”


“Dari tangan, Yai.”


“Lalu mengapa tidak langsung membasuh kepala?”


“Karena itulah urutannya.”


Kiai tersenyum.


“Begitu pula mencari ilmu. Ada urutannya. Sebelum ilmu masuk ke kepala, adab harus masuk ke dalam hati.”


Kalimat itu menancap kuat di dada Zain.


Namun ia masih belum benar-benar memahami maksudnya.


Keesokan paginya, sebelum adzan Subuh berkumandang, Zain melihat sesuatu yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya.


Seorang santri tua sedang menyapu halaman ndalem kiai dengan penuh ketulusan. Setelah itu ia membersihkan sandal-sandal para tamu, lalu diam-diam mengisi kembali kendi air di serambi rumah sang kiai.


Tak ada yang menyuruhnya.


Tak ada yang memujinya.


Semua dilakukan dengan senyum.


Beberapa hari kemudian diumumkan hasil ujian besar pesantren.


Santri yang memperoleh nilai tertinggi ternyata bukan Zain.


Bukan pula Hasan.


Melainkan santri tua yang setiap pagi menyapu halaman.


Semua orang terkejut.


Padahal ia hampir tidak pernah terlihat membawa banyak kitab.


Seorang ustaz berkata,


“Jangan hanya lihat berapa lama seseorang membuka kitab. Lihat pula bagaimana ia memuliakan orang yang mengajarkan kitab itu.”


Sejak hari itu, hati Zain mulai berubah.


Ia mulai membiasakan diri berdiri ketika kiai datang. Ia mendengarkan setiap nasihat dengan sungguh-sungguh. Ia tidak lagi memotong pembicaraan guru. Ia membantu menyiapkan majelis sebelum pengajian dimulai dan membereskannya setelah selesai.


Ia juga mulai menyadari bahwa menghormati kiai bukan sekadar mencium tangan atau merapikan sandal. Hormat berarti menjaga nama baik guru, melaksanakan nasihatnya, mendoakannya, tidak membantah dengan kesombongan, serta mengamalkan ilmu yang diajarkan.


Perubahan itu berlangsung perlahan.


Tanpa disadari, hatinya menjadi lebih tenang.


Pelajaran yang dahulu terasa rumit kini lebih mudah dipahami. Hafalannya kembali kuat. Bahkan ia tidak lagi belajar hanya demi menjadi juara, tetapi agar ilmunya membawa manfaat.


Suatu sore, Zain dipanggil menghadap sang kiai.


Beliau berkata lembut,


“Zain, tahukah engkau mengapa para ulama terdahulu begitu menjaga adab kepada guru?”


Zain menggeleng.


Kiai mengambil sebuah kitab tua dari rak kayu.


“Kitab ini telah berpindah tangan selama ratusan tahun. Isinya sama, tintanya sama, kertasnya hampir sama. Namun mengapa ada orang yang membaca kitab ini lalu menjadi ulama besar, sementara ada pula yang membacanya tetapi tidak memperoleh keberkahan?”


Beliau menatap Zain dengan penuh kasih.


“Karena ilmu bukan hanya kumpulan huruf. Ilmu adalah cahaya. Dan cahaya tidak akan menetap di hati yang dipenuhi kesombongan.”


Air mata Zain menetes.


Ia teringat saat menertawakan santri yang merapikan sandal kiai.


Ia teringat ucapan Hasan tentang adab.


Ia teringat semua sikap angkuhnya.


Dengan suara bergetar ia berkata,


“Yai… mohon maafkan saya.”


Kiai tersenyum hangat.


“Anakku, seorang santri tidak diukur dari seberapa tinggi nilai ujiannya. Ia diukur dari seberapa dalam hormatnya kepada guru, karena dari situlah keberkahan ilmu tumbuh.”


Bertahun-tahun kemudian, Zain menjadi seorang dai yang dikenal luas. Ceramahnya didengar ribuan orang. Murid-muridnya datang dari berbagai daerah.


Namun setiap kali ditanya tentang rahasia keberhasilannya, ia tidak pernah menyebut kecerdasannya.


Ia selalu berkata,


“Dulu aku mengira ilmu hanya bisa diraih dengan membaca. Ternyata aku keliru. Ilmu juga tumbuh dari adab, dari ketundukan hati, dan dari hormat kepada orang yang mengajarkannya.”


Lalu ia menambahkan sebuah kalimat yang selalu membuat majelis hening.


“Jika engkau ingin ilmu yang hanya memenuhi kepalamu, belajarlah dengan tekun. Tetapi jika engkau menginginkan ilmu yang menerangi hidupmu, maka muliakanlah kiainya. Sebab keberkahan sering kali datang bukan dari banyaknya pelajaran, melainkan dari hormat yang tulus kepada guru.”


Sejak saat itu, setiap santri yang melewati serambi masjid tidak lagi menganggap sandal kiai sebagai benda biasa.


Mereka melihatnya sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kemuliaan tidak dimulai dari langkah kaki sendiri, melainkan dari kerendahan hati dalam memuliakan orang yang telah menunjukkan jalan menuju ilmu dan menuju Allah.


Oleh: Falah