Tidak terasa waktu berlalu, melewati jalan yang naik turun dan pepohonan yang rimbun, akhirnya mereka sampai di villa pantai Heha. Biasanya saat sore menjelang malam, disana ada pertunjukkan dan atraksi dari berbagai daerah. Sayang mereka datang di jam 17.38 jadi pertunjukan itu telah selesai.
“Ayo kita masuk ke villa, biar besok subuh bisa liat sunrise.”
“Iya buk.”
Mereka pun memasuki villa itu dan memesan kamar. Setelah menerima kunci kamar, mereka segera menuju kamar yang telah disiapkan. Dari balkon kamar, hamparan laut terlihat begitu luas. Langit yang mulai gelap dihiasi semburat jingga sisa-sisa matahari yang baru saja tenggelam.
“Wah, indah sekali ya, Pak,” ujar Pramono sambil memandang ke arah laut.
“Iya. Besok pagi lebih bagus lagi,” jawab Pak Sigit. “Kalau cuacanya cerah, matahari terbitnya kelihatan jelas dari sini.”
Mereka lalu membereskan barang bawaan masing-masing. Setelah itu, mereka turun untuk makan malam di warung yang berada tidak jauh dari villa. Suara ombak terdengar samar-samar, berpadu dengan angin laut yang sejuk.
Selesai makan, mereka berjalan sebentar di sekitar pantai. Lampu-lampu mulai menyala dan membuat suasana terlihat hangat.
“Sayang ya, kita datangnya terlambat,” kata Bu Ajeng. “Kalau lebih awal mungkin bisa lihat pertunjukan tadi.”
“Tidak apa-apa, Buk. Yang penting besok masih bisa jalan-jalan,” jawab Pramono.
Tidak lama kemudian mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Perjalanan yang cukup jauh membuat tubuh mereka lelah. Satu per satu akhirnya tertidur.
Keesokan harinya, sekitar pukul lima pagi, Pak Sigit sudah bangun terlebih dahulu. Ia segera membangunkan yang lain.
“Ayo bangun. Katanya mau lihat sunrise.”
Pramono membuka matanya perlahan.
“Masih ngantuk, Pak.”
“Kalau tidur terus nanti mataharinya keburu tinggi.”
Mendengar itu, Pramono langsung bangkit dari tempat tidur. Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di area pandang dekat pantai.
Langit yang semula gelap perlahan berubah warna. Semburat jingga mulai muncul di ufuk timur. Tidak lama kemudian matahari perlahan naik dari balik lautan.
“Masya Allah...” ucap Pramono pelan.
Untuk beberapa saat mereka hanya diam menikmati pemandangan itu. Ombak berkejaran di tepi pantai, sementara sinar matahari pagi memantul di permukaan laut.
“Pemandangan seperti ini yang bikin orang betah datang ke sini,” kata Pak Sigit.
Mereka mengangguk setuju.
Setelah puas menikmati matahari terbit, mereka kembali ke penginapan untuk sarapan. Hari itu mereka habiskan dengan berjalan-jalan, berfoto, menikmati berbagai makanan, dan bermain di sekitar pantai.
Pramono tampak sangat senang. Hampir setiap sudut yang menurutnya menarik selalu ia jadikan tempat berfoto.
Menjelang sore mereka duduk bersama menghadap laut.
“Terima kasih ya, Pak, Buk, sudah mengajak Mbok kesini,” kata Mbok Tun.
“Tidak usah berterima kasih, Mbok,” jawab Bu Ajeng. “Kita memang pergi bersama-sama.”
Mbok Tun tersenyum. Hatinya terasa hangat. Sudah lama ia tidak merasakan suasana seperti itu.
Keesokan paginya mereka bersiap untuk pulang. Barang-barang dimasukkan kembali ke dalam mobil. Setelah semuanya siap, mereka meninggalkan penginapan.
Perjalanan pulang berlangsung dengan lancar. Di sepanjang jalan mereka saling bercerita dan bercanda.
Beberapa jam kemudian mereka akhirnya sampai di rumah.
“Alhamdulillah, sampai juga,” kata Bu Ajeng.
Mereka menurunkan barang bawaan lalu masuk ke rumah. Meski liburan itu hanya berlangsung dua hari, kenangan yang mereka dapatkan terasa sangat berharga.
Bagi Pramono, perjalanan itu bukan hanya tentang pantai yang indah atau penginapan yang nyaman. Perjalanan itu membuatnya semakin menyadari bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah. Kadang, keluarga adalah orang-orang yang selalu ada, saling peduli, dan saling menguatkan.
Dengan perasaan senang, mereka kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Namun kenangan tentang liburan di Pantai Heha akan selalu mereka ingat sebagai salah satu perjalanan yang paling Berkesan. Oleh: Nizar

.jpg)



.jpg)
.jpg)
