Tuesday, April 21, 2026

Walau Habis Terang


 Matahari baru saja muncul, mengusir sisa dingin semalam di sebuah kompleks perumahan yang masih sepi. Di bawah langit pagi yang cerah itu, Peter tampak santai mengayuh sepedanya. Sebagai mahasiswa, sepedaan pagi memang sudah jadi rutinitas wajibnya biar badan tetap segar sebelum berkutat dengan buku.

“Peter!” panggil seseorang.

Peter menarik remnya pelan. “Eh, Pak Mastur,” sahutnya.

“Pagi-pagi banget udah keluar aja, Pet,” sapa Pak Mastur ramah.

“Iya, Pak, cari keringat biar sehat,” jawab Peter sambil nyengir.

“Oh iya, hari ini mulai kuliah lagi ya?” tanya Pak Mastur.

“Iya Pak, hari pertama masuk.”

“Wah, ya sudah kalau gitu. Semangat ya! Bapak mau berangkat kerja dulu.”

“Hati-hati di jalan, Pak!” jawab Peter.

Keduanya pun berpisah melanjutkan urusan masing-masing.

Peter segera bersiap-siap. Setelah libur panjang yang rasanya nggak habis-habis, akhirnya dia harus kembali ke kampus. Setelah rapi, dia memanaskan motor Vario yang kemarin dia pakai mudik. Jarak kosan ke kampusnya tergolong dekat, cuma butuh waktu 15 menit kalau jalanan lancar.

Sesampainya di kampus, suasana langsung ramai. Peter disambut hangat sama teman-temannya sebelum bergegas masuk kelas. Hari pertama ini rasanya beda, semangatnya masih penuh. Apalagi dosen yang masuk sangat ramah dan cara mengajarnya asyik, bikin satu kelas antusias menyimak materi.

Nggak terasa, jam istirahat tiba. Peter langsung melipir ke kantin buat mengisi perut. Di sana, dia malah ketemu Alex, teman lamanya yang baru banget balik dari London.

“Eh, Lex! Wih, udah di sini aja lu,” sapa Peter sambil menepuk bahu temannya itu.

“Hehe, iya. Baru sampai kemarin sore,” jawab Alex.

Tapi Peter sadar ada yang aneh. “Tapi kok muka lu ditekuk gitu? Murung banget kayaknya.”

Alex menghela nafas panjang. “Huft, biasalah, kepikiran tugas. Lu tahu sendiri kan, dosen gua nggak asyik, ditambah lagi teman-teman di kelas suka ngomongin di belakang,” keluhnya.

“Ya, gua juga ngerasa gitu kok,” kata Peter mencoba menenangkan.

“Tapi dosen lu Pak Irwan, kan? Dia mah seru. Lah, gua?” Alex protes.

“Ya sama aja Lex, tugas kami juga numpuk,” jelas Peter.

“Lu mah enak, kalau salah cuma diingetin dikit. Lah gua? Salah dikit langsung kena semprot, ceramahnya panjang banget lagi,” gerutu Alex.

“Emangnya lu dapet dosen siapa?” tanya Peter penasaran.

“Itu lho, Bu Afiyah,” jawab Alex lesu.

Peter menyeruput kopi susunya pelan, lalu berkata, “Inget Lex, mau gimana pun beliau itu tetap guru kita.”

Dia melanjutkan, “Kita ini mahasiswa, jadi wajar kalau banyak tugas. Di mana-mana juga begitu. Siapa pun dosennya, nggak usahlah kita ngeluh. Justru tekanan kayak gitu yang bikin kita mentalnya jadi. Soal omongan orang? Udah makanan sehari-hari itu. Inget kata-kata ini: Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya tuk terangi jalanmu. Di antara beribu lainnya, kau tetap benderang.”

Alex melongo. “Wih, sejak kapan lu bisa ngomong puitis gitu? Dapet dari mana?”

“Dari lagu, lah!” jawab Peter sambil tertawa.

“Terus, maksudnya apaan?” tanya Alex lagi.

“Maksudnya, kita harus tetap semangat walau masa-masa seneng kayak liburan kemarin udah habis. Apapun kondisinya, kita harus terus maju. Jangan lupa bawa “cahayamu,” maksudnya restu dan doa orang tua, karena itu yang bakal nuntun jalan lu. Jangan gampang baper atau patah semangat. Di antara ribuan orang, kalau lu ngerasa di jalan yang bener, ya tetep pede aja,” jelas Peter.

Alex akhirnya manggut-manggut. Dia sadar kalau memang harus tetap semangat dan nggak boleh gampang menyerah. Kalau memang jalannya sudah benar, ya tinggal lanjut jalan terus.

Oleh: Azami


Tuesday, April 14, 2026

Jangan Cuma Minta Nikmat, Tapi Juga Jaga Nikmat Itu


Kalau dipikir-pikir, kebanyakan dari kita itu jago banget soal meminta. Dalam doa, kita sering minta banyak hal: minta rezeki dilancarkan, kesehatan, kemudahan hidup, bahkan hal-hal kecil sekalipun. Tapi sayangnya, nggak semua orang seimbang antara meminta dan menjaga.


Dalam ceramah ini, ada pesan sederhana tapi “nampol”: jangan cuma sibuk minta nikmat ke Allah, tapi juga belajar menjaga nikmat yang sudah dikasih. Karena kenyataannya, dapat nikmat itu satu hal, tapi mempertahankannya itu hal lain yang sering lebih sulit.


Nikmat itu bentuknya banyak banget. Nggak cuma uang atau harta. Bisa berupa kesehatan, waktu luang, keluarga yang baik, teman yang support, bahkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Tapi seringkali, karena nikmat itu terasa “biasa”, kita jadi nggak sadar kalau sebenarnya itu besar banget nilainya.


Masalahnya, manusia itu gampang lupa. Pas lagi susah, doa panjang banget. Tapi pas lagi dikasih kelapangan, malah lalai. Ini yang sering kejadian—kita fokus minta terus, tapi nggak mikir gimana cara menjaga apa yang sudah ada.


Padahal dalam Islam, nikmat itu bukan cuma pemberian, tapi juga amanah. Artinya, ada tanggung jawab di dalamnya. Misalnya, kalau dikasih rezeki lebih, harusnya bisa dipakai untuk hal baik, bantu orang lain, atau minimal nggak dipakai untuk hal yang sia-sia.


Begitu juga dengan waktu. Banyak orang pengen hidupnya lebih produktif, tapi ketika dikasih waktu luang, malah dihabiskan untuk hal yang nggak penting. Scroll tanpa tujuan, nunda-nunda, atau bahkan hal yang nggak ada manfaatnya sama sekali. Di situ sebenarnya kita lagi “nyia-nyiain” nikmat.


Hal lain yang sering terjadi adalah kurangnya rasa syukur. Kita sering merasa kurang, padahal kalau dilihat lagi, yang kita punya sebenarnya sudah banyak. Syukur itu bukan cuma ucapan “alhamdulillah”, tapi juga bagaimana kita menggunakan nikmat itu dengan baik.


Karena kalau nikmat nggak dijaga, bisa aja hilang. Dan seringnya, kita baru sadar setelah kehilangan. Baru ngerasa pentingnya kesehatan pas sakit. Baru ngerasa berharganya waktu pas kesempatan sudah lewat. Di situ biasanya muncul penyesalan.


Makanya, menjaga nikmat itu penting. Caranya gimana? Sebenarnya sederhana: gunakan untuk kebaikan. Kalau punya ilmu, diamalkan. Kalau punya rezeki, disedekahkan. Kalau punya waktu, diisi dengan hal yang bermanfaat. Intinya, nikmat itu jangan cuma “dinikmati”, tapi juga dimanfaatkan.


Ceramah ini juga ngingetin kita untuk lebih sadar diri. Jangan sampai kita terus-terusan minta hal baru, tapi yang lama aja belum dijaga dengan baik. Karena bisa jadi, tertundanya apa yang kita minta itu bukan karena Allah nggak mau ngasih, tapi karena kita belum siap menjaga.


Akhirnya, poin pentingnya sederhana tapi dalam: hidup itu bukan cuma soal mendapatkan, tapi juga menjaga. Nikmat yang dijaga dengan syukur dan kebaikan biasanya akan bertahan, bahkan bisa bertambah. Tapi nikmat yang diabaikan, cepat atau lambat bisa hilang.


Jadi mulai sekarang, selain minta dalam doa, coba juga tanya ke diri sendiri: “nikmat yang sudah aku punya ini, udah aku jaga belum?”


Oleh: Wafiq


 

Friday, April 10, 2026

Terbuang Dalam Waktu

Malam itu terasa dingin dan sepi. Hanya ada Jackson dan laptopnya. Seperti biasa, ia duduk menatap layar setiap malam. Namun kali ini ada yang berbeda. Pandangannya tertuju pada kalender. Ada satu tanggal yang ia lingkari dan ia tulis: “Pulang.”

Besok kampus libur. Ia sudah memutuskan untuk pulang pagi hari setelah beristirahat.

Keesokan harinya, Jackson bersiap. Ia mengenakan celana jeans, jaket hitam, dan topi merah. Ia juga membawa hadiah untuk ibunya. Mobil dinyalakan, perjalanan pun dimulai. Hari itu terasa indah, seolah menjadi momen yang istimewa.

Sesampainya dirumah, ia langsung menemui ibunya. Mereka berbincang sebentar, melepas rindu. Jackson pun memberikan hadiah yang dibawanya. Namun karena merasa liburnya masih panjang, ia kembali membuka laptop dan mulai siaran langsung untuk mengurus para pengikutnya.

Lama-kelamaan, perhatiannya hanya tertuju pada layar. Ia asyik dengan dunia maya hingga  mulai melupakan sekitarnya, termasuk ibunya.

“Ting!” ponselnya berbunyi. Ternyata Adrian mengirim pesan.

“Hei, lagi ngapain, Bro?”
 “Lagi live, ngurus followers gue.”
 “Buset, rajin banget. Nggak capek?”
 “Capek sih, tapi ya gimana… lagi naik juga soalnya.”

“Heh, tapi lu udah nemenin ibu lu belum?”
 “Hah? Ya santai aja kali. Ibu gue juga di rumah.”
 “Ya bukan gitu Bro, Ini kan momen lu pulang. Masa malah sibuk sama layar?”
 “Iya juga sih… tapi bentar doang ini.”

“Bentar lu bilang, tau-tau seharian.”
 “Alah, lebay lu.”
 “Serius gue,  nanti nyesel loh kalau kebanyakan cuek.”
 “Iya, iya… ntar juga gue samperin.”

“Yaudah deh, gue cuma ngingetin. Gue mau keluar dulu.”
 “Oke, hati-hati.”

Setelah itu, Jackson kembali fokus pada siaran langsungnya. Waktu berlalu tanpa terasa. Siang berganti malam, tetapi ia tetap terpaku di depan layar.

Hingga tiba-tiba…

“Bruk!”

Terdengar suara keras dari dapur.

“Apa sih itu? Ganggu banget,” gumamnya sambil berjalan mengecek.

Langkahnya terhenti. Tubuhnya kaku.

Di lantai dapur, ibunya tergeletak… tak bergerak.

“Bu…?” suaranya pelan, gemetar.

Namun tak ada jawaban.

Dunia seakan berhenti saat itu juga.

Setelah pemakaman selesai, Jackson duduk termenung di depan makam ibunya. Ia menatap nisan itu lama, seolah berharap semuanya hanya mimpi.

“Maafin gue, Bu…” ucapnya lirih.

Ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas. Jumlah pengikutnya turun drastis. Notifikasi sepi. Perlahan, semuanya menghilang.

Saat itulah ia sadar… ia benar-benar sendirian.

Tak lama kemudian, sebuah mobil Innova hitam berhenti. Adrian turun dan menghampirinya.

“Sabar ya, Bro…” ucap Adrian pelan.

“Iya… tapi gue ngerasa kosong banget. Kayak semuanya hilang,” jawab Jackson dengan suara berat.

“Lu masih punya waktu buat berubah, Jack.”

Jackson menggeleng pelan.
 “Tapi buat ibu gue… udah nggak ada kesempatan lagi…”

Adrian terdiam.
 “Makanya kemarin gue ingetin… jangan kebanyakan sibuk sama dunia lu sendiri.”

Jackson menunduk. Tangannya mengepal.

“Iya… sekarang gue nyadar. Tapi semuanya udah telat.”

Hari itu, Jackson benar-benar mengerti satu hal: waktu tidak pernah menunggu.

Ia menyesal telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk sesuatu yang pada akhirnya pergi begitu saja. Sementara orang yang paling berharga justru ia abaikan.

Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan…
 karena waktu yang telah terbuang.

Oleh: Azami


Tuesday, April 7, 2026

KH. Hasyim Latief, Sang Komandan Tempur Hizbullah


Dikisahkan bahwa pada masa Agresi Militer Belanda II di Jawa Timur, KH. Hasyim Latif bersama Laskar Hizbullah lainnya pernah terkepung oleh pasukan Belanda. Dalam keadaan tersebut, beliau segera berusaha meloloskan diri dari kepungan.

Ketika berjalan seorang diri di lereng gunung di kawasan Ngrimbi, Bareng, Jombang, pasukan Belanda kembali menemukan dan mengepung beliau. Tanpa jeda, mereka langsung melepaskan tembakan bertubi-tubi dengan senjata otomatis. Peluru menghujani tubuh KH. Hasyim Latif, mengenai wajah serta bagian tubuh lainnya.

Namun, setiap peluru yang mengenai tubuh beliau tidak menimbulkan luka sedikit pun. Peluru-peluru tersebut seolah meleset, tidak mempan sama sekali. Melihat kejadian itu, pasukan Belanda menghentikan penembakan, terlebih setelah seluruh amunisi telah dimuntahkan. Dalam keadaan gentar, mereka pun segera mundur dan kembali ke markas.

Ketika ditanya mengapa tubuh beliau tidak mempan terhadap peluru, KH. Hasyim Latif menegaskan bahwa hal itu merupakan karomah dari para kyai yang telah memberinya suwuk dan doa-doa sebelum beliau berangkat berjuang melawan Belanda. Ketika itu, memang tidak sedikit kyai yang memberikan bekal berupa doa-doa maupun air minum yang telah diberi doa kepada para pejuang perang untuk menghadapi pasukan musuh. Dan ternyata, doa-doa itu berkhasiat menjadikan seseorang kebal, walaupun terhadap peluru sekalipun.

Oleh: Arsakha

 


 

Friday, April 3, 2026

Karomah KH. Kholil Bangkalan


 Dalam komunitas pesantren, nama KH. Kholil Bangkalan Madura sudah sangat familiar. Beliau dikenal sebagai seorang Kyai dengan tingkat spiritualitas yang tinggi, sekaligus sebagai waliyullah.

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu terdapat beberapa pejuang dari Jawa yang bersembunyi di kompleks Pesantren Kademangan. Sayangnya, informasi ini tercium oleh tentara penjajah. Dengan mengerahkan pasukan yang cukup besar, mereka menggeledah seluruh area pesantren. Mereka sangat yakin bahwa para pejuang bersembunyi di sana. Oleh karena itu, mereka merasa sangat marah ketika tidak menemukan apa pun di tempat tersebut.

Karena jengkel, mereka akhirnya menahan Kyai Kholil yang sudah sepuh. Mereka berharap, dengan ditahannya beliau, para pejuang akan menyerahkan diri.

Namun, apa yang terjadi justru di luar dugaan. Bukan para pejuang yang menyerahkan diri, melainkan pihak penjajah yang dibuat kebingungan oleh berbagai kejadian yang tidak mereka pahami. Mula-mula, semua pintu tahanan tidak dapat ditutup ketika Kyai Kholil dimasukkan ke dalam sel. Hal ini membuat mereka harus berjaga siang dan malam, jika tidak ingin para tahanan lain melarikan diri.

Pada hari-hari berikutnya, ribuan orang dari berbagai penjuru Pulau Madura, bahkan dari Jawa, berdatangan untuk menjenguk dan mengirimkan makanan kepada Kyai Kholil. Tentu saja, hal ini semakin memusingkan pihak penjajah. Akhirnya, mereka mengeluarkan keputusan yang melarang masyarakat untuk mengunjungi beliau.

Akan tetapi, kebijakan tersebut tidak juga menyelesaikan masalah. Masyarakat yang berbondong-bondong tetap datang, berkerumun, dan berdesakan di sekitar rumah tahanan. Bahkan, ada di antara mereka yang meminta untuk ikut ditahan bersama Kyai Kholil.

Daripada terus dipusingkan oleh hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti, pihak penjajah akhirnya melepaskan Kyai Kholil dari penjara begitu saja.

Oleh: Arsakha


Tuesday, March 31, 2026

Dalam Jalan Panjang

 



Sore itu cerah. Matahari memancarkan sinar hangat menjelang terbenam. Di lapangan, anak-anak bermain dengan riang. Di tengah suasana itu, seorang kakek melintas dengan motor tuanya.

“Paimen!” sapa seseorang.
“Eh, Thahirin,” jawab kakek.
“Wah, sudah tua masih sehat saja,” ujar Thahirin.
Kakek tersenyum. “Ah, tidak juga. Sekarang sudah tidak sekuat dulu.”
“Iya juga, sekarang tinggal menikmati waktu saja, sambil melihat anak-anak,” balas Thahirin.

Setelah berbincang sebentar, kakek pun melanjutkan perjalanannya.

Belakangan ini, ia memang sering berkeliling kampung setiap sore dengan motor tuanya yang setia menemaninya. Meski begitu, terkadang ia membuat keluarganya khawatir. Sebab ia kerap menyinggung soal kematian dalam ucapannya. Hanya satu orang yang tidak merasa demikian. Ziyad, anak kecil berusia lima tahun yang justru sangat senang mendengar cerita-ceritanya. Entah kisah nyata atau sekadar karangan yang tokoh utamanya diganti kakek, cerita-cerita itu selalu menarik bagi Ziyad.

Sesampainya di rumah, kakek memarkir motornya di depan rumah kayu.

“Kakek!” teriak Ziyad sambil berlari menghampiri. Ia langsung menarik tangan kakek. “Kakek, Ziyad mau jalan-jalan.”

“Sabar, Kakek baru sampai. Memangnya tidak capek?”
“Tidak. Tadi Ziyad sudah tidur,” jawabnya polos.
“Baiklah, Kakek ganti baju dulu supaya tidak kotor.”
“Memangnya kalau kotor kenapa, Kek?”
“Kalau bajunya kotor, nanti Kakek tidak bisa main sama Ziyad,” jawab kakek sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka pun berjalan-jalan menikmati sore. Angin berhembus pelan, menggerakkan janggut putih kakek.

Di tengah perjalanan, kakek bertanya, “Ziyad, kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Ziyad mau jadi pengusaha, Kek,” jawabnya mantap.
“Wah, cita-cita yang bagus. Dulu Kakek hanya ingin jadi petani.”
“Memangnya tidak capek, Kek?”
“Capek, tapi itulah cara Kakek menjalani hidup.”

Ziyad berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Kenapa tidak jadi pengusaha saja? Kan uangnya banyak.”

Kakek tersenyum, lalu berkata pelan, “Bekerja itu bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga tentang tanggung jawab. Kita harus yakin dengan pilihan kita, bukan semata karena hasilnya, tetapi juga manfaatnya bagi orang lain. Petani misalnya, tanpa petani, tidak akan ada padi. Sopir juga, tanpa mereka barang tidak akan sampai. Kakek tahu menjadi petani itu tidak mudah, tetapi Kakek senang melihat orang-orang bisa makan dari hasil panen Kakek.”

Lalu kakek pun melanjutkan, “Begitu juga ayahmu. Ia menjadi dosen agar bisa membagikan ilmu yang dimilikinya.”

“Kalau pengusaha bisa apa, Kek?” tanya Ziyad lagi.
“Pengusaha adalah orang yang terus berusaha. Ia membangun dan mengembangkan usahanya, sedikit demi sedikit, sambil bersaing dengan yang lain. Kakek berharap kamu bisa menjadi pengusaha yang sukses. Tapi ingat, perjalananmu masih panjang. Banyak hal yang belum kamu ketahui, jadi kamu harus terus belajar.”

Ziyad mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang cita-cita, tetapi juga tentang proses panjang untuk mencapainya.

Sore itu, langkah kecilnya terasa lebih mantap. Ia tahu, di perjalanan yang panjang nanti, ia akan belajar banyak hal hingga akhirnya mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Oleh: Azami




Friday, March 13, 2026

Jangan Tunggu Ramadhan untuk Beribadah

 


Dikisahkan dalam kitab Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan al-Khubawi tentang seorang laki-laki bernama Muhammad. Dalam kesehariannya ia hampir tidak pernah melaksanakan shalat. Namun ketika bulan Ramadhan tiba, ia memuliakan bulan tersebut dengan sungguh-sungguh. Ia memakai pakaian terbaiknya, menggunakan wewangian, memperbanyak ibadah, dan berusaha mengqadha shalat yang selama 11 bulan sebelumnya tidak ia kerjakan.

Ia melakukan semua itu dengan satu harapan: semoga Allah berkenan mengampuninya.

Suatu ketika laki-laki itu meninggal dunia. Diceritakan bahwa ada seorang alim yang bermimpi bertemu dengannya, lalu menanyakan keadaannya di akhirat. Dalam mimpi tersebut ia menjawab bahwa Allah telah mengampuninya dan memberinya kebaikan karena penghormatan serta ibadah yang ia lakukan pada bulan Ramadhan.

Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kesempatan untuk memperbanyak ibadah selalu terbuka, baik ketika muda maupun ketika telah tua, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Seorang Muslim tidak seharusnya hanya menjadi orang saleh pada bulan Ramadhan saja, lalu kembali lalai pada bulan-bulan lainnya.

Seringkali seseorang menunda shalat, ibadah, atau perbuatan baik dengan alasan masih muda atau menunggu datangnya Ramadhan. Padahal ia lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja, tanpa memandang usia. Bagaimana jika seseorang meninggal sebelum sempat menjumpai Ramadhan yang ia tunggu?

Ramadhan memang bulan yang istimewa. Pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Di dalamnya Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, pahala amal kebaikan dilipatgandakan, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperbanyak ibadah, sekaligus menjadi awal untuk menjaga kebaikan tersebut pada bulan-bulan berikutnya.

Oleh: Rizky