“Peter!” panggil seseorang.
Peter menarik remnya pelan. “Eh, Pak Mastur,” sahutnya.
“Pagi-pagi banget udah keluar aja, Pet,” sapa Pak Mastur ramah.
“Iya, Pak, cari keringat biar sehat,” jawab Peter sambil nyengir.
“Oh iya, hari ini mulai kuliah lagi ya?” tanya Pak Mastur.
“Iya Pak, hari pertama masuk.”
“Wah, ya sudah kalau gitu. Semangat ya! Bapak mau berangkat kerja dulu.”
“Hati-hati di jalan, Pak!” jawab Peter.
Keduanya pun berpisah melanjutkan urusan masing-masing.
Peter segera bersiap-siap. Setelah libur panjang yang rasanya nggak habis-habis, akhirnya dia harus kembali ke kampus. Setelah rapi, dia memanaskan motor Vario yang kemarin dia pakai mudik. Jarak kosan ke kampusnya tergolong dekat, cuma butuh waktu 15 menit kalau jalanan lancar.
Sesampainya di kampus, suasana langsung ramai. Peter disambut hangat sama teman-temannya sebelum bergegas masuk kelas. Hari pertama ini rasanya beda, semangatnya masih penuh. Apalagi dosen yang masuk sangat ramah dan cara mengajarnya asyik, bikin satu kelas antusias menyimak materi.
Nggak terasa, jam istirahat tiba. Peter langsung melipir ke kantin buat mengisi perut. Di sana, dia malah ketemu Alex, teman lamanya yang baru banget balik dari London.
“Eh, Lex! Wih, udah di sini aja lu,” sapa Peter sambil menepuk bahu temannya itu.
“Hehe, iya. Baru sampai kemarin sore,” jawab Alex.
Tapi Peter sadar ada yang aneh. “Tapi kok muka lu ditekuk gitu? Murung banget kayaknya.”
Alex menghela nafas panjang. “Huft, biasalah, kepikiran tugas. Lu tahu sendiri kan, dosen gua nggak asyik, ditambah lagi teman-teman di kelas suka ngomongin di belakang,” keluhnya.
“Ya, gua juga ngerasa gitu kok,” kata Peter mencoba menenangkan.
“Tapi dosen lu Pak Irwan, kan? Dia mah seru. Lah, gua?” Alex protes.
“Ya sama aja Lex, tugas kami juga numpuk,” jelas Peter.
“Lu mah enak, kalau salah cuma diingetin dikit. Lah gua? Salah dikit langsung kena semprot, ceramahnya panjang banget lagi,” gerutu Alex.
“Emangnya lu dapet dosen siapa?” tanya Peter penasaran.
“Itu lho, Bu Afiyah,” jawab Alex lesu.
Peter menyeruput kopi susunya pelan, lalu berkata, “Inget Lex, mau gimana pun beliau itu tetap guru kita.”
Dia melanjutkan, “Kita ini mahasiswa, jadi wajar kalau banyak tugas. Di mana-mana juga begitu. Siapa pun dosennya, nggak usahlah kita ngeluh. Justru tekanan kayak gitu yang bikin kita mentalnya jadi. Soal omongan orang? Udah makanan sehari-hari itu. Inget kata-kata ini: Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya tuk terangi jalanmu. Di antara beribu lainnya, kau tetap benderang.”
Alex melongo. “Wih, sejak kapan lu bisa ngomong puitis gitu? Dapet dari mana?”
“Dari lagu, lah!” jawab Peter sambil tertawa.
“Terus, maksudnya apaan?” tanya Alex lagi.
“Maksudnya, kita harus tetap semangat walau masa-masa seneng kayak liburan kemarin udah habis. Apapun kondisinya, kita harus terus maju. Jangan lupa bawa “cahayamu,” maksudnya restu dan doa orang tua, karena itu yang bakal nuntun jalan lu. Jangan gampang baper atau patah semangat. Di antara ribuan orang, kalau lu ngerasa di jalan yang bener, ya tetep pede aja,” jelas Peter.
Alex akhirnya manggut-manggut. Dia sadar kalau memang harus tetap semangat dan nggak boleh gampang menyerah. Kalau memang jalannya sudah benar, ya tinggal lanjut jalan terus.
Oleh: Azami

.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)