Keluarga itu memiliki satu peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh seluruh anggota keluarga, termasuk pembantu. Yaitu larangan memasuki basement rumah. Yang boleh memasuki basement itu hanyalah kepala keluarga dan istrinya.
Pagi itu, pukul sembilan pagi, keluarga Sigit sedang bersiap-siap. Mereka mempunyai rutinitas satu bulan sekali, yaitu pergi refreshing ke tempat-tempat yang tenang untuk menjernihkan pikiran dari kesibukan bekerja. Saat itu, mereka sedang merapikan pakaian sambil menunggu Pramono pulang sekolah.
“Mbok, kamu masak dulu ya. Nanti kita makan siang dulu sebelum berangkat ke sana,” ucap Pak Sigit.
“Inggih, Pak. Sebentar ya saya masakkan,” jawab Mbok Tun.
Mbok Tun sudah bekerja di rumah itu sejak Pramono masih berusia lima tahun. Kira-kira sudah dua belas tahun lamanya ia bekerja di rumah keluarga Sigit. Jadi, ia sangat tahu sifat-sifat seluruh anggota keluarga di rumah itu. Bahkan, makanan kesukaan mereka pun ia hafal.
Hari itu, Mbok Tun berinisiatif memasakkan makanan favorit Pramono, yaitu sop iga dan cumi bumbu hitam.
Menjelang pukul setengah dua belas, masakan akhirnya selesai. Aroma sop iga yang gurih memenuhi dapur, bercampur harum khas cumi bumbu hitam yang baru matang. Karena Pramono masih belum pulang, Mbok Tun menyimpan masakan itu di alat penghangat supaya nanti tetap enak saat dimakan.
Saat itu, Pak Sigit sedang menatap layar komputernya. Ia sedang menyelesaikan tugas kantornya atau apalah itu sambil sesekali mendesah kesal. Setelah beberapa saat, pekerjaannya pun selesai. Ia segera bersiap-siap untuk menjemput Pramono yang sebentar lagi pulang sekolah.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil mereka masuk ke halaman rumah.
“Buk, aku pulang!” seru Pramono sambil melepas sepatunya.
“Oh iya, Nak. Sini makan dulu. Habis ini kita pergi refreshing kayak biasanya,” balas Bu Ajeng, ibu Pramono.
“Oh iya, Bu,” jawab Pramono.
Pramono pun menuju kamar untuk mengganti baju dengan pakaian yang lebih santai. Sementara itu, Mbok Tun menata piring dan lauk-pauk di atas meja makan.
“Pak, Buk, kemari. Makanannya sudah siap,” panggil Mbok Tun.
Seluruh anggota keluarga pun berkumpul di meja makan.
“Wah, Mbok masak makanan kesukaanku!” ucap Pramono dengan wajah senang.
“Iya, Nang. Spesial untuk hari ini, Mbok masak sop iga kesukaanmu sama cumi bumbu hitam kesukaanmu, Nang,” jawab Mbok Tun sambil tersenyum.
“Makasih ya, Mbok,” ucap Pramono dengan wajah sumringah.
“Bagaimana sekolahmu, Nak?” tanya Bu Ajeng sembari mengambilkan nasi.
“Bagus, Bu. Tadi aku ulangan kimia dapat nilai sembilan puluh lima.”
“Oh ya? Kemarin kamu baru saja dapat rangking satu di kelas. Ibu bangga banget punya anak kayak kamu,” ucap Bu Ajeng dengan nada penuh kebanggaan.
“Iya, Bapak juga,” sahut Pak Sigit.
Pramono tersenyum kecil. “Makasih ya, Pak, Buk.”
“BTW, gak ada hadiahnya nih?” rayunya.
Pak Sigit dan Bu Ajeng langsung tertawa.
“Hahaha, santai saja. Nanti Ibu beliin drone yang jaraknya bisa sampai tiga kilometer.”
Wajah Pramono langsung berubah cerah.
“Wah, makasih banyak, Buk!”
“Iya, Nak. Biar kamu lebih semangat belajarnya,” kata Bu Ajeng.
“Hmm, iya, Buk.”
“Udah itu cepat dihabisin makanannya. Habis ini kita mau berangkat,” ujar Bu Ajeng.
Setelah selesai makan, Mbok Tun membereskan meja dan mencuci piring bekas makan tadi. Suara air dari dapur terdengar pelan memenuhi rumah.
“Mbok, ayo Mbok! Udah pada siap semua nih, tinggal kamu!” seru Bu Ajeng dari depan rumah.
“Oh, inggeh, Buk,” jawab Mbok Tun.
Mbok Tun pun segera mengambil tasnya dan bergegas masuk ke dalam mobil bersama keluarga Sigit.
Lanjut Part 3 yakk.. 🙌
Oleh: Nizar



.jpg)
.jpg)


