Monday, February 23, 2026

Ramadhan, Waktu untuk Kembali ke Diri Sendiri


 Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia menyambut satu bulan yang selalu dinanti: bulan Ramadhan. Bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga, Ramadhan adalah momen istimewa yang membawa suasana lebih tenang, lebih hangat, dan terasa lebih dekat dengan nilai-nilai kebaikan.

Ramadhan sering disebut sebagai bulan penuh keberkahan. Bukan tanpa alasan, karena di bulan inilah banyak orang merasa lebih mudah untuk berbuat baik, lebih ringan untuk berbagi, dan lebih terdorong untuk memperbaiki diri. Ada suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, tetapi begitu terasa di hati.

Salah satu hal yang membuat Ramadhan istimewa adalah kedekatannya dengan Al-Qur’an. Di bulan ini, banyak orang yang kembali meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan isinya. Masjid-masjid menjadi lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar hampir setiap malam, dan semangat untuk memperdalam pemahaman agama terasa meningkat.

Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri secara fisik, tetapi juga tentang menghidupkan hati. Ia mengajak kita untuk lebih reflektif, lebih sadar, dan lebih terhubung dengan nilai-nilai yang mungkin selama ini terlupakan karena kesibukan sehari-hari.

Ramadhan seperti memberi ruang yang luas untuk memperbaiki diri. Banyak orang menjadikannya sebagai titik awal untuk memulai kebiasaan baik seperti lebih sabar, lebih jujur, lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap orang lain.

Puasa mengajarkan kita arti pengendalian diri. Saat rasa lapar dan haus datang, kita belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi saat itu juga. Kita belajar menahan amarah, menjaga ucapan, dan berpikir sebelum bertindak. Latihan sederhana ini ternyata punya dampak besar dalam kehidupan sehari-hari.

Di bulan Ramadhan, rasa empati biasanya tumbuh lebih kuat. Saat kita merasakan lapar sepanjang hari, kita jadi lebih peka terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan. Tidak heran jika semangat berbagi meningkat baik melalui sedekah, bantuan untuk yang membutuhkan, maupun sekedar berbagi makanan untuk berbuka.

Momen berbuka puasa juga menjadi ajang mempererat kebersamaan. Entah itu bersama keluarga di rumah, teman-teman lama, atau komunitas di lingkungan sekitar, suasana hangatnya terasa berbeda. Ramadhan menghadirkan kebersamaan yang lebih tulus dan sederhana.

Di tengah rutinitas yang padat, jarang sekali kita benar-benar berhenti untuk mengevaluasi diri. Ramadhan menghadirkan kesempatan itu. Dengan pola aktivitas yang sedikit berubah seperti bangun lebih awal, mengisi malam dengan hal-hal positif kita seperti diajak keluar dari ritme biasa.

Bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: sudah sejauh mana perjalanan kita? Apa saja yang perlu diperbaiki? Apa yang bisa ditingkatkan ke depannya?

Ramadhan memang datang setiap tahun, tetapi setiap pertemuan dengannya selalu terasa berbeda. Karena itu, ketika bulan ini tiba, sudah sepatutnya kita menyambutnya dengan hati terbuka bukan hanya menjalankan rutinitas, tetapi benar-benar memanfaatkan setiap momennya.

Semoga Ramadhan yang kita jalani menjadi langkah nyata untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih peduli terhadap sesama.

Oleh: Arsakha


Friday, February 13, 2026

Benarkah Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Hadits Populer: Bergembira Masuk Ramadhan Dijamin Bebas Neraka?


Tidak terasa waktu ini berjalan begitu cepat. Hari demi hari berlalu, hingga tanpa kita sadari sebentar lagi kita akan kembali dipertemukan dengan bulan yang selalu dirindukan oleh orang-orang beriman: bulan suci Ramadhan.


Di momen seperti ini biasanya mulai beredar sebuah hadis yang berbunyi:


مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ

“Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya dari api neraka.”


Secara kajian literatur hadis, para ulama ahli hadis menegaskan bahwa redaksi ini tidak memiliki sanad yang kuat. Sebagian menilainya dhaif, bahkan ada yang menganggapnya maudhu’ (tidak sah berasal dari Nabi ﷺ). Karena itu, kita perlu berhati-hati dalam menyandarkan suatu ucapan kepada Rasulullah ﷺ. Jadi, kalau mau menyampaikan hadis ini harus dikasih catatan: hadis ini secara sanad tidak sahih, bisa dhaif bahkan maudhu’.


Namun demikian, meskipun redaksinya tidak sahih sebagai hadis, makna kegembiraan menyambut Ramadhan bukanlah sesuatu yang tercela. Justru rasa bahagia adalah ekspresi iman. Allah ﷻ sendiri berfirman dalam Al-Qur’an agar manusia bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya. Dan Ramadhan jelas merupakan karunia besar, bulan di mana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.


​Ramadhan: Tamu yang Tak Menuntut, Tapi Memberi


​Bayangkan Ramadhan adalah seorang tamu agung yang datang membawa koper penuh hadiah. Selayaknya tuan rumah yang baik, persiapan kita tidak boleh setengah-setengah:


  1. ​Persiapan Sarana (Dhahiriyah): 

Persiapan lahiriah bukan hal remeh. Membersihkan sajadah, mencuci mukena atau sarung, merapikan mushaf, hingga memastikan masjid nyaman bagi jamaah, semua itu adalah bagian dari adab menyambut bulan suci. Lingkungan yang bersih dan tertata akan membantu hati lebih mudah khusyu’.

Selain itu, menjaga kesehatan juga termasuk persiapan fisik. Mengatur pola makan sebelum Ramadhan, membiasakan diri bangun lebih awal, dan mengurangi begadang akan membantu tubuh lebih siap menjalani ibadah puasa dan qiyam.

  1. ​Persiapan Hati (Bathiniyah): 

Inilah yang paling penting. Hati adalah wadah. Jika wadahnya kotor oleh iri, dendam, riya’, dan prasangka buruk, maka limpahan rahmat Ramadhan sulit menetap di dalamnya.

Menyambut Ramadhan berarti memulai proses pembersihan diri: meminta maaf, memperbaiki hubungan, dan memperbanyak istighfar. Jangan sampai kita memasuki tanggal 1 Ramadhan dengan hati yang masih penuh beban.

Kegembiraan yang benar bukan sekadar ucapan “Marhaban ya Ramadhan” di media sosial, tetapi kesiapan ruhani untuk berubah.

  1. ​Persiapan Aksi (Rencana): 

Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah tahunan—tempat kita “naik kelas” dalam iman dan takwa. Tanpa rencana, Ramadhan akan berlalu seperti bulan-bulan lainnya.

Cobalah membuat target yang terukur:

  • Berapa kali khatam Al-Qur’an?

  • Bagaimana jadwal tilawah harian?

  • Apakah akan mengikuti kajian rutin?

  • Berapa persen dari rezeki yang akan disedekahkan?

  • Bagaimana menjaga lisan dan media sosial dari hal sia-sia?

Dengan rencana yang jelas, Ramadhan tidak lagi sekedar rutinitas, tetapi proyek transformasi diri.


​Menutup Celah "Sekedar Haus dan Lapar"


​Banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Mengapa? Karena mereka menyambut Ramadhan hanya sebatas seremonial.

​Kegembiraan yang sesungguhnya harus dibuktikan dengan aksi. Jika kita senang akan datangnya Ramadhan, maka kita akan mempersiapkan jadwal tilawah, mengatur waktu istirahat agar kuat bangun sahur, dan menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang kekurangan.


​"Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini bukan sekadar pergantian bulan di kalender, tapi momen transformasi besar dalam hidup kita.”


Oleh: Abid


Tuesday, February 10, 2026

Belajar Bersyukur dalam Keadaan Apapun

 


Kehidupan setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang hidup sederhana, ada yang bergelimang harta dan kemewahan, dan ada pula yang berada di posisi di antara keduanya. Semua itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari ketentuan Allah yang sudah diatur sesuai dengan keadaan masing-masing hamba-Nya.

Apapun kondisi hidup yang kita jalani, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bersyukur. Sayangnya, tidak semua orang mampu melakukannya. Ada yang mudah bersyukur saat hidupnya lapang, tetapi lupa ketika diuji dengan kekurangan. Ada juga yang terlalu menikmati nikmat sampai merasa semua itu murni hasil usahanya sendiri.

Kita perlu memahami bahwa Allah tidak selalu memberikan nikmat dalam jumlah besar kepada setiap orang. Bukan karena Allah tidak sayang, justru sebaliknya. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Bisa jadi, jika seseorang terlalu banyak diberi kenikmatan, ia akan terlena, sibuk menikmati dunia, dan perlahan lupa kepada Allah yang telah memberinya semua itu.

Karena itulah, sedikit atau banyaknya nikmat bukan ukuran bahagia atau tidaknya hidup seseorang. Yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapinya. Ketika kita mampu bersyukur dalam keadaan apa pun, di situlah letak ketenangan dan keberkahan hidup yang sebenarnya.

Oleh: Nizam


Tuesday, February 3, 2026

Karena Meninggalkanya Kita Kembali Terpuruk


Dahulu, Rasulullah ﷺ menguatkan umat Islam dengan Al-Qur’an. pemudanya ditarbiyah baik-baik dengan totalitas. Bukan hanya sekedar mempelajari atau menghafalkan, namun berlomba-lomba mentadabburi dan mengamalkan. Maka wajar bila kita menjumpai kisah-kisah hebat dari para Sahabat, Mereka kuat dan disegani oleh lawan. Mereka menanggalkan gemerlap kehidupan dunia demi mengejar kehidupan abadi. Sehingga mereka menjadi pemuda akhirat, bukan pemuda dunia.


Dalam waktu lebih dari dua dekade, Islam berdiri sebagai pondasi peradaban yang kokoh. Kota jahiliyah Makkah berhasil ditaklukkan, dan cahaya Islam membentang hingga menundukkan negeri-negeri adidaya pada masanya: Persia, Romawi, dan Yaman. Islam disegani oleh lawan, dan dicintai oleh kawan.


Apa kunci keberhasilan mereka? Seluruh keberhasilan itu bukan karena jumlah, harta, atau kekuatan fisik, melainkan karena kedekatan mereka dengan Allah dan Al-Qur’an. Mereka mengaplikasikan seluruh tuntunan Islam dalam kehidupan. Mereka lekat dengan Al-Qur’an sebagaimana manusia hari ini lekat dengan gawai di tangan.


Sejak bagun hingga tidur lagi, mereka selalu membahas Al-Qur’an. Ucapan dan perbuatan mereka selalu mengandung unsur kebermanfaatan. Maka lahirlah banyak pengetahuan dan para ilmuwan, penguasa yang bijak, negeri yang tentram, tanah yang sejahtera, dan kehidupan yang tenang.


Namun, ketika berbagai fitnah menyerang.. satu persatu pejuang Islam diwafatkan, lalu digantikan oleh generasi yang tidak lagi menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Mereka mulai menoleh dunia, cinta berlebihan, hingga hati dipenuhi kegelisahan, bukan lagi ketenangan.


Fashion menjadi candu, hingga lupa cara berpenampilan sederhana.

Food menjadi hobi baru, sibuk mencicipi segala rasa hingga tak tahu lagi berpuasa.

Gadget menjadi kebutuhan dan sahabat sejati setiap hari, hingga Al-Qur’an tersingkir dan berdebu dalam lemari.


Syukur-syukur jika sehari membaca satu ayat, kenyataannya masih banyak yang seharian tak menyentuh Al-Qur’an sama sekali. Memikirkan bukan mahram menjadi hal yang lumrah, bahkan menangisinya dianggap wajar. sementara menangisi dosa sendiri justru dianggap berlebihan.


Inilah yang membuat generasi kita lalai dan lemah. Hingga mudah didikte oleh kaum kafir, dimana medianya lebih kita percaya daripada Al-Qur’an. Publik figur-nya kita jadikan panutan, bukan lagi Nabi ﷺ, para sahabat, dan Ulama. Gaya hidupnya menjadi kebanggaan, sementara gaya hidup Islam dianggap kuno dan tidak toleran. Bahkan pemeluknya dicitrakan sebagai ancaman (teroris).


Dan kita, sesama muslim, sering kali hanya diam. Tak berani membela, karena sibuk dengan urusan masing-masing.


Namun, Islam tidak pernah mundur.

Mungkin yang mundur adalah jarak kita dengannya.


Al-Qur’an masih utuh, ayat-ayatnya masih sama.

Yang berubah hanyalah tangan yang tak lagi menggenggamnya,

dan hati yang tak lagi rindu kepadanya.


Jika dahulu satu ayat mampu menggerakkan dunia,

hari ini dunia menggerakkan kita menjauh dari ayat.


Lalu, sebelum kita menuntut Islam kembali berjaya,

sudahkah kita kembali menjadi hamba yang taat?


Atau jangan-jangan,

kita sedang menunggu cahaya menyinari hidup kita,

malah justru kita sendiri yang menjauhinya.


Oleh: Falah


Friday, January 30, 2026

Apa Itu Ikhlas?

 


Dalam Islam, ikhlas adalah pondasi dari setiap amal. Sebesar apapun kebaikan yang kita lakukan, jika tidak disertai keikhlasan karena Allah, maka nilainya bisa menjadi sia-sia. Sebaliknya, amal yang terlihat kecil dapat bernilai besar di sisi Allah jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.


Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji, dihargai, atau dilihat manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ".
( رواه البخاري ومسلم)

Hadist ini menegaskan bahwa niat adalah kunci utama diterimanya amal.


Di zaman sekarang, ikhlas menjadi tantangan tersendiri. Media sosial, pujian, dan pengakuan sering membuat hati kita goyah. Tanpa sadar, niat yang awalnya karena Allah bisa berubah menjadi ingin dilihat orang lain (riya’).


Karena itu, penting bagi kita untuk sering bertanya pada diri sendiri:

“Untuk siapa aku melakukan ini?”


Beberapa langkah sederhana untuk menjaga dan melatih keikhlasan:


  •  Luruskan niat sebelum beramal

  •  Sembunyikan sebagian amal kebaikan

  •  Tidak kecewa saat tidak diapresiasi manusia

  •  Banyak berdoa agar diberi hati yang ikhlas

  • Mengingat bahwa balasan terbaik hanya dari Allah


Keikhlasan memang tidak mudah, tetapi bisa dilatih dengan kesadaran dan muhasabah.


Orang yang ikhlas akan merasakan:


  • Hati yang ringan dan damai

  • Tidak mudah sakit hati

  • Hidup lebih sederhana dan fokus pada akhirat

  • Amal terasa lebih bermakna


Ikhlas membebaskan kita dari ketergantungan pada penilaian manusia.


Mari kita belajar ikhlas, meski perlahan. Tidak perlu menunggu sempurna, karena Allah Maha Mengetahui setiap niat di dalam hati. Semoga setiap langkah kecil kita bernilai besar di sisi-Nya.


Oleh: Zacky


Tuesday, January 27, 2026

Menyiapkan Hati di Bulan Sya‘ban


Bulan Sya‘ban merupakan bulan yang sering kali terlewatkan oleh banyak orang. Padahal, bagi para salafus shalih, Sya‘ban merupakan bulan persiapan hati sebelum memasuki bulan suci bulan Ramadhan. Jika Ramadhan adalah musim panen, maka Sya‘ban adalah waktu kita untuk mengolah tanah dan membersihkannya dari rerumputan.

Hati adalah pusat segala amal. Rasulullah ﷺ bersabda,


أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم


“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).


 Maka membersihkan hati di bulan Sya‘ban menjadi perkara yang sangat penting, agar ketika Ramadhan datang, hati sudah siap menerima cahaya ibadah, bukan justru sibuk dengan penyakit-penyakit batin.

Penyakit hati seperti hasad, dengki, riya’, ujub, dendam, dan cinta dunia yang berlebihan sering kali tidak terasa, namun dampaknya sangat besar. Ia mengeraskan hati, melemahkan keikhlasan, dan mengurangi manisnya ibadah. Betapa banyak orang yang secara lahiriah berpuasa, namun hatinya masih dipenuhi kebencian dan iri terhadap sesama. Maka Sya‘ban adalah momentum untuk muhasabah, menundukkan ego, dan memohon kepada Allah agar disucikan batin kita.


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada bulan Sya‘ban, amal-amal diangkat kepada Allah. 


يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَىٰ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ


Artinya: Allah ‘azza wa jalla melihat (amalan) hamba-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Ia mengampuni semua makhluknya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan (HR At-Thabrani).  


Para ulama memahami bahwa inilah salah satu hikmah memperbanyak amal dan taubat di bulan ini, agar ketika catatan amal diangkat, hati kita berada dalam keadaan bersih dan penuh penyesalan atas dosa. Membersihkan hati bukan hanya dengan banyak istighfar di lisan, tetapi juga dengan memaafkan sesama, meluruskan niat, dan menjauhkan diri dari permusuhan.


Bagi seorang santri, bulan Sya‘ban adalah waktu untuk memperbaiki hubungan: hubungan dengan Allah melalui taubat dan doa, serta hubungan dengan manusia melalui akhlak dan adab. Santri diajarkan bahwa ilmu dan ibadah tidak akan bercahaya jika hati masih gelap. Maka sebelum Ramadhan tiba, hati perlu disapu, dibasuh, dan ditata agar layak menjadi tempat turunnya rahmat.


Jangan sampai bulan Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi bulan perubahan. Puasa terasa mudah tidak ada paksaan, Al-Qur’an terasa dekat, dan doa mengalir dengan penuh harap. Semoga Allah memberi kita taufik untuk memanfaatkan bulan Sya‘ban dengan sebaik-baiknya, membersihkan hati dengan sungguh-sungguh, agar ketika Ramadhan datang, kita termasuk hamba-hamba yang siap menyambutnya dengan hati yang hidup dan penuh cahaya.


Oleh: Naim


Friday, January 23, 2026

Jejak Shalahuddin Menaklukkan Yerusalem


Pada periode ini, Shalahuddin banyak menghabiskan waktunya untuk bertempur melawan pasukan Salib. Ia tidak pernah mengenal rasa lelah demi tegaknya agama Islam. Pertempuran yang dialami Shalahuddin memiliki sejarah panjang. Konflik antara kaum Muslimin dan tentara Salib, meskipun sesekali diwarnai dengan perdamaian yang sering dilanggar oleh tentara Salib, terus mewarnai lembaran perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Pertempuran pertama yang dipimpinnya adalah melawan Amalric I, Raja Yerusalem. Selanjutnya, ia berhadapan dengan Baldwin IV (putra Amalric I), Reynald de Chatillon (penguasa Benteng Karak), dan Baldwin V. Selain itu, Shalahuddin berhasil menaklukkan beberapa kota penting, antara lain Tiberias, Nasirah, Gaza, Hebron, Yerusalem, Bethlehem, Busniah, dan Gunung Zaitun pada tahun 1187 M.

Shalahuddin selalu meraih kemenangan atas tentara Salib, hingga puncaknya ketika ia menaklukkan pasukan di Pertempuran Hittin, dekat Tiberias, pada tahun 1187 M. Kemenangan ini diikuti dengan penundukan wilayah Palestina, termasuk Acre, Nablus, Caesarea, Jaffa, Askalon, dan Beirut. Pertempuran tersebut diakhiri dengan perjanjian pada tahun 1192 M di Ramalah, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Yerusalem tetap berada di tangan umat Islam, dan umat Kristen diizinkan menjalankan ibadah di tanah suci mereka.

  2. Tentara Salib mempertahankan wilayah pantai Suriah dan Tyre hingga Jaffa.

  3. Umat Islam mengembalikan harta rampasan Kristen kepada umat Kristen.

Oleh: Arsakha