Friday, July 10, 2026

Menjauhkan Diri dari Sifat Hasad: Kunci Hati yang Tenang dalam Islam

 


Hasad atau dengki adalah salah satu penyakit hati yang harus dihindari oleh setiap muslim. Hasad merupakan perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat, bahkan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sifat ini dapat merusak hati, menghilangkan ketenangan, dan merusak hubungan antarsesama.

Dalam Islam, Allah Swt. memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa menjaga kebersihan hati. Salah satu doa perlindungan dari kejahatan orang yang dengki terdapat dalam Surah Al-Falaq ayat 5:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS. Al-Falaq: 5)

Rasulullah saw. juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Jauhilah sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud)

Hadis tersebut mengingatkan bahwa hasad dapat menghapus pahala amal kebaikan yang telah kita lakukan. Oleh karena itu, seorang muslim harus berusaha membersihkan hati dari rasa iri dan dengki.

Ada beberapa cara untuk menjauhkan diri dari sifat hasad. Pertama, memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Kedua, meyakini bahwa setiap rezeki telah ditetapkan oleh Allah sesuai dengan hikmah-Nya. Ketiga, mendoakan kebaikan bagi orang lain ketika melihat mereka mendapatkan keberhasilan. Keempat, memperbanyak ibadah dan berdzikir agar hati selalu dekat dengan Allah.

Sebaliknya, Islam mengajarkan ghibthah, yaitu keinginan untuk memiliki kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tanpa berharap nikmat tersebut hilang darinya. Sikap ini mendorong seseorang untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan.

Marilah kita senantiasa menjaga hati agar terhindar dari sifat hasad. Hati yang bersih akan melahirkan ketenangan, mempererat persaudaraan, serta mengantarkan kita kepada ridha Allah Swt. Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit dengki dan menggantinya dengan rasa syukur, ikhlas, serta kasih sayang kepada sesama.

Oleh: Zacky


Wednesday, July 8, 2026

Pulang Dengan Penyesalan


 Di sebuah desa yang terletak di balik gunung, hiduplah sebuah keluarga kecil. Keluarga tersebut memiliki seorang anak tunggal bernama Erick. Erick berasal dari keluarga petani. Ia tinggal hanya bersama ibunya karena ayahnya sudah tiada. Walau begitu, Erick seringkali mengabaikan ibunya dan tidak pernah membantu pekerjaannya.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Erick tumbuh dewasa dan bekerja di kota sebagai seorang pegawai kantoran. Hari-harinya dipenuhi dengan pekerjaan. Ia sering pulang larut malam ke kamar kosnya. Bahkan, ia kerap mendapat teguran dari atasannya karena pekerjaannya sering tidak terselesaikan dengan baik. Semua itu membuat Erick merasa lelah dan stres.

Hingga suatu malam, Erick pergi ke sebuah kafe untuk menenangkan pikirannya. Ia memesan segelas americano sambil duduk sendirian. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Baginya, hidup terasa begitu berat dan penuh dengan masalah.

Tiba-tiba, datanglah Rehan, teman semasa sekolahnya. Rehan kemudian memesan secangkir cappuccino dan seporsi kentang goreng. Melihat kesempatan itu, Erick pun mulai menceritakan semua beban yang selama ini ia pendam. Rehan mendengarkan dengan saksama dan menanggapi setiap cerita Erick.

Setelah beberapa saat, Rehan bertanya, "Kamu sudah pulang ke rumah belum?"

"Belum, memangnya kenapa?" jawab Erick.

"Nah itu, menurutku kamu perlu pulang dan beristirahat sejenak bersama orang tuamu."

"Memangnya sepenting itu?"

“Emang kamu nggak kangen sama mereka? Kamu perlu datang ke orang tuamu untuk melepas semua masalah yang kamu dapat. Terutama Ibumu, cuma pelukan ibu yang bisa membuat masalah di pikiranmu hilang. Mumpung mereka masih ada, kalo mereka sudah nggak ada, kamu bakal menyesal seumur hidup!” jelas Rehan.


Tak terasa Erick pun meneteskan air mata. Lalu Erick sadar kalau ia harus kembali menemui ibunya dan meminta maaf atas semua yang ia lakukan pada ibunya.


Oleh: Azami


Friday, July 3, 2026

Kyai Kholil Dalam Perdebatan Antara Kepiting Dan Rajungan


Diceritakan bahwa pada suatu hari para ulama di Makkah berkumpul di Masjidil Haram untuk membahas berbagai persoalan fikih. Berbagai masalah dikumpulkan dan dibahas sesuai dengan ketentuan hukum islam. Satu per satu permasalahan hukum diselesaikan dengan mudahnya, meskipun terkadang disertai perdebatan. Hampir tidak ada masalah yang sulit diputuskan.

Namun, ketika pembahasan sampai pada hukum kepiting dan rajungan, para ulama mulai berbeda pendapat. Kesulitan itu muncul karena mereka hanya berpedoman pada kitab-kitab yang ada di hadapan mereka. Selain itu, jika dilihat sekilas, kepiting dan rajungan tampak mirip. Hanya orang yang benar-benar memahami dunia hewan yang dapat membedakan keduanya dengan jelas.

Perdebatan pun berlangsung cukup lama. Setiap ulama mempertahankan pendapatnya masing-masing. Sebagian berpendapat bahwa kepiting dan rajungan sama-sama halal karena dianggap sejenis. Sementara itu, sebagian yang lain berpendapat bahwa rajungan halal, sedangkan kepiting haram. Karena belum mencapai kesepakatan, pembahasan tentang kepiting dan rajungan pun terus berlanjut. Selama ini, mereka hanya mengenal kedua hewan tersebut melalui gambar dan penjelasan.

Pada saat itu, Kyai Kholil yang sedang menuntut ilmu di Makkah juga hadir dalam majelis tersebut. Beliau duduk dengan tenang, mendengarkan perdebatan para ulama, dan sesekali tersenyum. Ketika melihat pembahasan tidak menemukan jalan keluar, Kyai Kholil pun berdiri dan meminta izin untuk menyampaikan pendapatnya.

“Hadirin yang terhormat, bisakah aku berbicara mengenai persoalan kepiting dan rajungan ini?” Kyai Kholil berdiri di hadapan hadirin.

“Ya, silahkan kemukakan pendapat Anda.”

Setelah berdiri di hadapan para ulama, Kyai Kholil berkata, "Sulitnya menentukan hukum kepiting dan rajungan karena para hadirin belum melihat secara langsung bentuk kedua hewan tersebut."

Para ulama saling memandang dan mengangguk, seolah membenarkan perkataan beliau.

Kemudian Kyai Kholil berkata lagi, "Inilah wujud kepiting."

Beliau memperlihatkan seekor kepiting yang masih basah di tangan kanannya.

Lalu beliau melanjutkan, "Dan inilah wujud rajungan."

Di tangan kirinya tampak seekor rajungan yang juga masih basah, seakan baru saja diambil dari laut.

Melihat kejadian itu, seluruh ulama yang hadir terkejut. Mereka saling berpandangan karena baru pertama kali melihat kepiting dan rajungan secara langsung dalam majelis tersebut. Suasana pun menjadi ramai karena semua orang merasa takjub.

Peristiwa itu membuat banyak ulama membicarakan karomah Kyai Kholil. Sejak saat itu, nama Kyai Kholil semakin dikenal dan dihormati oleh para ulama di Makkah karena keluasan ilmunya serta karomah yang Allah anugerahkan kepada beliau.

Oleh : Arsakha 


Friday, June 19, 2026

Persahabatan Antara Pangeran Dan Anak dari Hutan

 


Di sebuah kerajaan yang berdiri di balik Gunung Ciremai, hiduplah seorang raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut memiliki seorang anak bernama Rayyan. Rayyan merupakan putra tunggal sekaligus pewaris Kerajaan Cibandoso. Ia juga dikenal karena kecerdasan dan ketampanannya.

Walaupun begitu, ia merupakan anak yang rendah hati. Ia berteman dengan siapa saja tanpa memandang fisik. Hal itu membuat Rayyan sangat disukai oleh warga kerajaan dan memiliki banyak teman.

Selain itu, ia sangat suka memainkan seruling di tepi sungai. Ia sangat piawai dalam memainkan seruling, sehingga suara yang dihasilkannya terdengar sangat merdu.

Hingga suatu hari, ia secara tidak sengaja melihat seorang anak berkulit hitam yang sedang mengintip dari balik pohon. Namun saat Rayyan mencoba memanggilnya, anak tersebut malah melarikan diri. Hal itu membuat Rayyan merasa penasaran dari mana asal anak tersebut.

Ternyata, anak itu diam-diam selalu memperhatikan Rayyan saat ia memainkan seruling di tepi sungai. Meskipun Rayyan menyadari keberadaannya, ia memilih untuk membiarkannya dan tidak mengusiknya.

Hingga suatu pagi, Rayyan melihat anak tersebut sedang menatapnya dari jarak dekat. Namun saat didekati, anak itu malah lari. Rayyan pun mengejarnya hingga masuk ke dalam hutan. Sayangnya, anak tersebut tersandung batu dan terjatuh. Melihat hal itu, Rayyan segera menolongnya.

Setelah itu, anak tersebut mengaku mengapa ia selalu memantau Rayyan. Ternyata, ia hanya ingin berteman dengan Rayyan. Namun, ia selalu merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk berteman dengan seorang pangeran. Karena itulah, ia hanya memantau Rayyan dari kejauhan.

Mendengar hal itu, Rayyan merasa iba dan mengajak anak tersebut untuk berteman. Rayyan juga berkata bahwa tidak ada masalah yang bisa menghalangi sebuah persahabatan. Ia menjelaskan bahwa ketampanan dan tahta yang dimilikinya hanyalah titipan semata dan suatu saat akan diambil kembali oleh Sang Pencipta.

Berkat perkataan itu, anak berkulit hitam tersebut pun sadar bahwa tidak ada penghalang untuk berteman dengan orang lain. Tampan atau tidak, semua hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh Sang Pencipta.

Sejak saat itu, anak tersebut menjadi sahabat dekat Rayyan. Mereka pun sering bermain, bercanda, dan bergembira bersama. Persahabatan mereka menjadi bukti bahwa ketulusan hati jauh lebih berharga daripada penampilan fisik.

Oleh: Azami


Tuesday, June 16, 2026

Saat Kebaikan Menyembuhkan Luka

Di sebuah kota besar, hiduplah seorang pemuda kaya raya bernama Arif. Ia mewarisi sebuah grup perusahaan besar dari kakeknya. Meskipun memiliki harta yang melimpah, Arif dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan dermawan.

Setiap hari, Arif selalu menyapa dan bergaul dengan para tetangganya tanpa memandang status sosial maupun latar belakang mereka. Ia juga sering menggunakan sebagian hartanya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Karena sifat baiknya itu, Arif sangat disukai oleh banyak orang.

Hingga suatu hari, karena urusan pekerjaan, Arif harus pindah ke kota lain. Keesokan harinya, ia berangkat menuju tempat tinggal barunya dengan mengendarai mobil.

Sesampainya di sana, Arif segera menata rumah dan mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Seperti biasanya, ia berusaha mengenal para tetangga dengan menyapa dan bergaul dengan mereka. Hampir semua warga menyambutnya dengan ramah, kecuali seorang wanita tua yang tinggal tepat di samping rumahnya.

Rumah wanita tua itu tampak kumuh dan kurang terawat. Ia juga dikenal sebagai seseorang yang jarang keluar rumah dan hampir tidak pernah berinteraksi dengan warga sekitar.

Suatu pagi, Arif melihat wanita tua tersebut sedang berjemur di depan rumah. Dengan ramah ia menyapa, namun wanita itu tidak membalas sapaannya. Sebaliknya, ia hanya menatap Arif dengan wajah sinis. Sikap itu membuat Arif merasa heran.

Karena penasaran, Arif kemudian bertanya kepada salah seorang tetangganya mengenai wanita tua tersebut. Dari situlah ia mengetahui kisah yang sebenarnya.

Dahulu, wanita tua itu adalah seorang ibu yang membesarkan kedua anaknya seorang diri. Setelah suaminya meninggal dunia, ia bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga dan memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Namun, setelah mereka dewasa, kedua anaknya justru meninggalkannya begitu saja. Sejak saat itu, hatinya dipenuhi rasa kecewa dan kesedihan sehingga ia menjadi tertutup terhadap orang lain.

Mendengar kisah tersebut, Arif merasa iba. Ia pun berinisiatif untuk membantu wanita tua itu. Sesekali ia mengantarkan makanan dan menanyakan kabarnya. Pada awalnya, wanita itu tidak terlalu menanggapi perhatian Arif. Namun, Arif tidak menyerah. Ia terus menunjukkan kepedulian dan kebaikannya dengan tulus.

Lambat laun, hati wanita tua itu mulai luluh. Ia mulai menerima kehadiran Arif dan menyadari bahwa masih ada orang yang peduli kepadanya. Seiring berjalannya waktu, sifatnya yang dulu tertutup perlahan berubah menjadi lebih ramah.

Berkat dukungan dan perhatian Arif, wanita tua tersebut mulai kembali bergaul dengan warga sekitar. Ia kembali menyapa para tetangganya dengan senyum yang hangat dan menjalin hubungan baik dengan mereka.

Melihat perubahan itu, Arif menyadari bahwa kebaikan dan kemurahan hati tidak hanya dapat membantu seseorang secara materi, tetapi juga mampu menyembuhkan luka hati serta mempererat tali persaudaraan. Sejak saat itu, lingkungan mereka menjadi lebih harmonis, tanpa rasa iri, dengki, maupun kebencian di antara sesama.

Oleh: Azami

Friday, June 12, 2026

Bayangan Sepuluh Hitam

 


Namanya Ru. Sejak kecil ia dirawat oleh Paman Xion dan Bibi Rah. Mereka menemukannya saat sedang berlatih bertarung melawan Beruang Alpha di Pegunungan Gedomazo.

Saat itu, mereka menemukan sebuah keranjang rotan yang tergeletak di tengah hutan. Di dalamnya terdapat seorang bayi laki-laki dan secarik kertas yang bertuliskan:

"Tolong rawat anak ini. Saya orang miskin yang terpaksa melakukan hubungan gelap untuk mencari sesuap nasi. Saya sangat menyesal."

"Hah? Anak siapa ini?" tanya Paman Xion saat menemukan bayi tersebut.

"Malang sekali nasib anak ini. Kita rawat saja dia, ya, Sayang," ujar Bibi Rah.

"Iya, kasihan sekali anak ini," balas Paman Xion.

Sejak hari itu, Ru tumbuh sebagai anak mereka sendiri.

Hari ini, Ru sedang berlatih Teknik Bayangan Sepuluh Hitam. Selama dua minggu penuh ia mengasingkan diri di hutan untuk mengasah kemampuannya.

Namun, saat kembali ke rumah, pemandangan mengerikan menyambutnya.

Tubuh Paman Xion dan Bibi Rah telah terpotong menjadi sembilan bagian.

"TIDAAAKK...!! SIAPA... SIAPA YANG TEGA MELAKUKAN HAL INI?! AKU TAK AKAN MEMAAFKANNYA!!"

Ru menjerit histeris. Air mata mengalir deras di pipinya.

Setelah menangis dua setengah jam, ia lalu membakar potongan tubuh paman Xion dan bibi Rah menjadi abu.


Abu tersebut kemudian dimasukkannya ke dalam sebuah guci yang selalu ia bawa saat berpetualang.

Ketika selesai, pandangannya tertuju pada seorang pria berjubah putih dengan topeng emas di kejauhan. Pria itu sedang mengangkat tumpukan kayu bakar menggunakan Teknik Hout Spot.

Tubuhnya dipenuhi lumuran darah yang masih segar.

Ru langsung menaruh curiga.

Ia yakin pria itulah yang telah membunuh Paman Xion dan Bibi Rah.

Sosok misterius itu terlihat berjalan menuju Gunung Muria, tepatnya ke Puncak 29.

Pada masa itu, sebagian besar gunung telah menjadi gundul akibat penebangan besar-besaran oleh berbagai kerajaan untuk membangun kastil dan istana. Ru merasa jika markas orang tersebut berada di situ karena ia pernah lewat dan menemukan istana besar nan megah berwarna putih cerah.

"Sepertinya aku tahu ke mana dia pergi. Aku harus mengejarnya sampai titik darah penghabisan."

Wajah Ru dipenuhi amarah.

Perjalanan menuju Gunung Muria bukanlah perjalanan yang mudah.

Tempat itu dipenuhi berbagai jebakan mematikan. Salah satunya adalah bunga mawar raksasa setinggi dua meter yang dapat meledak jika tersentuh oleh apa pun.

Namun, yang paling mengerikan adalah Macan Muria.

Seekor harimau putih raksasa tanpa satu pun belang hitam di tubuhnya. Konon, kecepatan larinya mampu mencapai 360 kilometer per jam.

Ru menggenggam guci abu paman dan bibinya erat-erat. Angin gunung yang dingin berhembus, tetapi kemarahan di dalam hatinya jauh lebih membara.

Dengan langkah cepat, ia berlari menuju Gunung Muria. Teknik Bayangan Sepuluh Hitam membuat tubuhnya seperti kabut hitam yang melesat di antara pepohonan.

Namun, perjalanan itu tidak mudah.

Saat memasuki lereng pertama, Ru hampir menyentuh bunga mawar raksasa setinggi dua meter. Kelopaknya berwarna merah menyala dan mengeluarkan suara mendesis.

"Hampir saja..."

Ru segera membuat bayangan kecil berbentuk tikus dan menyuruhnya menyentuh bunga tersebut.

BOOOOMM!!

Ledakan besar mengguncang tanah. Batu-batu beterbangan ke segala arah.

"Jadi benar, bunga ini meledak."

Ia pun melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati.

Beberapa jam kemudian, ia tiba di dataran gersang dekat Puncak 29. Tiba-tiba tanah bergetar.

GRRRRAAAUUUGHHH!!

Seekor macan putih raksasa muncul dari balik bebatuan. Tubuhnya hampir sebesar rumah. Matanya berwarna biru terang.

"Macan Muria..."

Ru langsung melompat ke belakang.

Dalam sekejap, macan itu menghilang.

"CEPAT SEKALI!"

BRAKK!!

Ru terpental puluhan meter setelah terkena hantaman ekor macan tersebut. Darah menetes dari sudut bibirnya.

Macan itu kembali menghilang.

Ru menutup matanya.

"Paman dan Bibi... pinjamkan keberanian kalian."

Ia mengaktifkan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam tingkat ketiga.

Sepuluh bayangan hitam muncul dari tubuhnya.

Bayangan pertama berubah menjadi serigala.

Bayangan kedua menjadi elang.

Bayangan ketiga menjadi ular raksasa.

Dan tujuh lainnya berubah menjadi prajurit bayangan.

"Serang!"

Pertarungan sengit terjadi.

Elang bayangan mengalihkan perhatian macan. Serigala bayangan menggigit kaki belakangnya. Sementara para prajurit bayangan menyerang dari segala arah.

Meski begitu, Macan Muria terlalu kuat.

Satu demi satu bayangan Ru dihancurkan.

Namun saat macan itu melompat untuk menerkamnya, Ru menemukan celah.

"Bayangan Kesepuluh: Tombak Kegelapan!"

Seluruh sisa energi bayangan berkumpul menjadi tombak hitam sepanjang lima meter.

"MATI KAU!!"

SRAAAKK!!

Tombak itu menembus dada Macan Muria.

Makhluk buas tersebut mengaum keras sebelum akhirnya roboh.

DUUUMMM!!

Tanah bergetar saat tubuh raksasanya jatuh.

Ru terengah-engah. Seluruh tenaganya hampir habis.

Namun dari puncak gunung, terdengar suara tepuk tangan.

"Hebat sekali."

Ru menoleh.

Di atas tebing berdiri seorang pria berjubah putih dengan topeng emas.

Di belakangnya tampak istana putih megah yang pernah dilihat Ru.

Dan yang membuat darah Ru mendidih adalah...

Di pinggang pria itu tergantung pedang yang sangat dikenalnya.

Pedang milik Paman Xion.

"Kau...!!"

Pria bertopeng itu tertawa kecil.

"Jadi kau anak yang mereka rawat selama ini."

"Apa maksudmu?!"

"Aku tidak membunuh mereka karena kebetulan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Lalu kenapa?!"

Pria itu perlahan melepas topengnya.

Wajahnya membuat Ru membeku.

Karena wajah pria itu...

Sangat mirip dengan wajahnya sendiri.

"Bersiaplah, Ru."

Pria itu tersenyum tipis.

"Saatnya kau mengetahui siapa orang tua kandungmu sebenarnya."

Ru membeku melihat wajah pria itu.

Wajah mereka hampir sama.

Hanya saja pria itu terlihat lebih tua sekitar dua puluh tahun.

"Siapa kau?" tanya Ru.

Pria itu tersenyum.

"Namaku Zaru. Aku kakak kandung ayahmu."

Ru terdiam.

"Apa?"

"Ayahmu adalah Raja Kegelapan dari Kerajaan Argen. Ia memiliki kekuatan yang ditakuti seluruh benua."

"Lalu kenapa aku dibuang?"

Zaru menarik napas panjang.

"Karena saat kau lahir, seorang peramal berkata bahwa suatu hari kau akan menjadi orang yang membunuh ayahmu dan menghancurkan kerajaan."

Ru mengepalkan tangannya.

"Itu alasan yang bodoh."

"Memang. Tapi ayahmu mempercayainya."

Zaru kemudian menjelaskan bahwa ibu Ru menolak membunuh bayinya sendiri. Diam-diam ia melarikan Ru dan menitipkannya kepada seseorang. Dalam pelarian, ia menulis surat yang ditemukan Paman Xion dan Bibi Rah agar identitas Ru tidak diketahui.

"Lalu di mana ibuku sekarang?"

Zaru menunduk.

"Sudah meninggal sepuluh tahun lalu."

Ru terdiam.

Ia tidak sempat mengenal ibu kandungnya.

Ru mengangkat kepalanya.

"Kalau begitu, siapa yang membunuh paman dan bibiku?"

Zaru menjawab pelan.

"Bukan aku."

"Lalu siapa?"

"Orang yang saat ini menjadi Raja Argen."

"Katanya ayahku raja?"

"Sudah bukan."

Ternyata beberapa tahun sebelumnya ayah Ru dibunuh oleh jenderalnya sendiri yang bernama Kharzon.

Kharzon merebut takhta dan membantai siapa pun yang mengetahui keberadaan pewaris asli kerajaan.

Termasuk Paman Xion dan Bibi Rah yang diam-diam melindungi Ru.

Ru merasakan kemarahannya kembali membara.

"Kharzon..."

"Ya. Dia sedang mencarimu."

Tiba-tiba ledakan besar terdengar.

BOOOM!

Istana putih berguncang.

Puluhan prajurit berbaju hitam menyerbu.

Di langit muncul naga terbang raksasa.

Di atas kepalanya berdiri seorang pria berbadan besar dengan mata merah.

Kharzon.

"Akhirnya aku menemukan kalian!" teriaknya.

Pertempuran besar pun terjadi.

Zaru melawan pasukan elit.

Ru menghadapi Kharzon.

Kharzon sangat kuat.

Setiap ayunan pedangnya mampu membelah bukit.

Ru beberapa kali hampir terbunuh.

Namun ia teringat wajah Paman Xion dan Bibi Rah.

Orang-orang yang membesarkannya.

Orang-orang yang mengajarinya berjalan.

Orang-orang yang selalu menunggunya pulang.

"Aku tidak akan kalah."

Ru mengaktifkan seluruh kekuatan Teknik Bayangan Sepuluh Hitam.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sepuluh bayangan itu menyatu.

Tubuh Ru berubah menjadi sosok berjubah hitam pekat dengan mata berwarna perak.

Kekuatan itu disebut:

Kharzon terkejut.

"Tidak mungkin!"

Ru mengangkat tangannya.

Seluruh bayangan di sekitar gunung bergerak.

Bayangan batu.

Bayangan pohon.

Bayangan manusia.

Bahkan bayangan naga.

Semuanya tunduk kepada Ru.

"Ini untuk Paman Xion."

Satu tombak bayangan menembus bahu Kharzon.

"Ini untuk Bibi Rah."

Tombak kedua menembus kaki Kharzon.

"Dan ini..."

Ru mengumpulkan seluruh kekuatannya.

"...untuk semua yang kau bunuh."

Ribuan tombak bayangan turun dari langit.

Kharzon berusaha melawan.

Namun terlambat.

DUUUAARRR!!

Ledakan raksasa mengguncang seluruh Gunung Muria.

Saat debu menghilang, Kharzon telah lenyap.

Beberapa bulan kemudian.

Kerajaan Argen kembali damai.

Para rakyat meminta Ru menjadi raja.

Namun ia menolak.

"Aku bukan penguasa. Aku hanya seorang petualang."

Ia menyerahkan pemerintahan kepada orang-orang bijaksana yang dipilih rakyat.

Kemudian ia melanjutkan perjalanan.

Guci berisi abu Paman Xion dan Bibi Rah masih selalu dibawanya.

Suatu hari ia tiba di puncak bukit yang dipenuhi bunga.

Di sana ia menanam dua pohon.

Satu untuk Paman Xion.

Satu untuk Bibi Rah.

Ru duduk di antara kedua pohon itu sambil tersenyum.

"Aku sudah membalas dendam."

Angin berhembus pelan.

Daun-daun bergoyang seolah menjawab.

Untuk pertama kalinya sejak kematian mereka, Ru merasa tenang.

Ia berdiri.

Mengambil tasnya.

Lalu berjalan menuju cakrawala.

Karena petualangan baru selalu menunggu.

Oleh: Kamil

Tuesday, June 9, 2026

Sesuatu Di Pondok Yang Tak Pernah Tidur


Jam sudah lewat dua belas malam. Pondok mulai sepi setelah patroli keamanan selesai. Angin dingin berhembus melewati lorong-lorong kamar yang remang-remang. Ahmad mendapat tugas mengambil buku yang tertinggal di kelas belakang bangunan lama yang jarang dipakai sejak atapnya bocor tahun lalu.

Awalnya biasa saja. Namun saat sampai di depan kelas, ia mendengar suara orang menjerit kesakitan.

"AAAA...!!"

Ahmad mengira ada santri lain yang belum tidur. Ia membuka pintu dengan perlahan. Kosong, tak ada siapa-siapa. Namun, suara itu masih terdengar, tepat di belakang telinganya.

Ahmad seketika menoleh cepat. Tidak ada orang. Dengan tangan gemetar, ia mengambil buku di meja lalu buru-buru keluar. Tapi baru beberapa langkah meninggalkan kelas, suara itu berubah. Bukan jeritan lagi, melainkan suara gedoran pintu yang sangat keras.

Ahmad mempercepat langkah. Lorong pondok terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu di ujung lorong berkedip-kedip. Lalu terdengar suara sandal menyeret lantai di belakangnya.

Ahmad memberanikan diri untuk menoleh. Tak ada siapa pun. Namun, ketika ia melihat ke bawah, ada jejak kaki basah mengikuti langkahnya. Padahal malam itu tak ada hujan sama sekali.

Setelah itu, Ahmad pun bersegera berlari secepat mungkin menuju kamarnya. Tak lama kemudian, ia langsung mencoba tidur dengan rasa takut yang membara hingga tubuhnya gemetar dan dipenuhi keringat dingin.

Sialnya, Ahmad masih belum bisa tidur karena terus terbayang kejadian menegangkan yang baru saja dialaminya.

Oleh: Muktafin