Friday, April 3, 2026

Karomah Kyai Kholil Bangkalan


 Dalam komunitas pesantren, nama Kyai Kholil Bangkalan Madura sudah sangat familiar. Beliau dikenal sebagai seorang Kyai dengan tingkat spiritualitas yang tinggi, sekaligus sebagai waliyullah.

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu terdapat beberapa pejuang dari Jawa yang bersembunyi di kompleks Pesantren Kademangan. Sayangnya, informasi ini tercium oleh tentara penjajah. Dengan mengerahkan pasukan yang cukup besar, mereka menggeledah seluruh area pesantren. Mereka sangat yakin bahwa para pejuang bersembunyi di sana. Oleh karena itu, mereka merasa sangat marah ketika tidak menemukan apa pun di tempat tersebut.

Karena jengkel, mereka akhirnya menahan Kyai Kholil yang sudah sepuh. Mereka berharap, dengan ditahannya beliau, para pejuang akan menyerahkan diri.

Namun, apa yang terjadi justru di luar dugaan. Bukan para pejuang yang menyerahkan diri, melainkan pihak penjajah yang dibuat kebingungan oleh berbagai kejadian yang tidak mereka pahami. Mula-mula, semua pintu tahanan tidak dapat ditutup ketika Kyai Kholil dimasukkan ke dalam sel. Hal ini membuat mereka harus berjaga siang dan malam, jika tidak ingin para tahanan lain melarikan diri.

Pada hari-hari berikutnya, ribuan orang dari berbagai penjuru Pulau Madura, bahkan dari Jawa, berdatangan untuk menjenguk dan mengirimkan makanan kepada Kyai Kholil. Tentu saja, hal ini semakin memusingkan pihak penjajah. Akhirnya, mereka mengeluarkan keputusan yang melarang masyarakat untuk mengunjungi beliau.

Akan tetapi, kebijakan tersebut tidak juga menyelesaikan masalah. Masyarakat yang berbondong-bondong tetap datang, berkerumun, dan berdesakan di sekitar rumah tahanan. Bahkan, ada di antara mereka yang meminta untuk ikut ditahan bersama Kyai Kholil.

Daripada terus dipusingkan oleh hal-hal yang tidak dapat mereka mengerti, pihak penjajah akhirnya melepaskan Kyai Kholil dari penjara begitu saja.

Oleh: Arsakha


Tuesday, March 31, 2026

Dalam Jalan Panjang

 



Sore itu cerah. Matahari memancarkan sinar hangat menjelang terbenam. Di lapangan, anak-anak bermain dengan riang. Di tengah suasana itu, seorang kakek melintas dengan motor tuanya.

“Paimen!” sapa seseorang.
“Eh, Thahirin,” jawab kakek.
“Wah, sudah tua masih sehat saja,” ujar Thahirin.
Kakek tersenyum. “Ah, tidak juga. Sekarang sudah tidak sekuat dulu.”
“Iya juga, sekarang tinggal menikmati waktu saja, sambil melihat anak-anak,” balas Thahirin.

Setelah berbincang sebentar, kakek pun melanjutkan perjalanannya.

Belakangan ini, ia memang sering berkeliling kampung setiap sore dengan motor tuanya yang setia menemaninya. Meski begitu, terkadang ia membuat keluarganya khawatir. Sebab ia kerap menyinggung soal kematian dalam ucapannya. Hanya satu orang yang tidak merasa demikian. Ziyad, anak kecil berusia lima tahun yang justru sangat senang mendengar cerita-ceritanya. Entah kisah nyata atau sekadar karangan yang tokoh utamanya diganti kakek, cerita-cerita itu selalu menarik bagi Ziyad.

Sesampainya di rumah, kakek memarkir motornya di depan rumah kayu.

“Kakek!” teriak Ziyad sambil berlari menghampiri. Ia langsung menarik tangan kakek. “Kakek, Ziyad mau jalan-jalan.”

“Sabar, Kakek baru sampai. Memangnya tidak capek?”
“Tidak. Tadi Ziyad sudah tidur,” jawabnya polos.
“Baiklah, Kakek ganti baju dulu supaya tidak kotor.”
“Memangnya kalau kotor kenapa, Kek?”
“Kalau bajunya kotor, nanti Kakek tidak bisa main sama Ziyad,” jawab kakek sambil tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka pun berjalan-jalan menikmati sore. Angin berhembus pelan, menggerakkan janggut putih kakek.

Di tengah perjalanan, kakek bertanya, “Ziyad, kalau sudah besar mau jadi apa?”
“Ziyad mau jadi pengusaha, Kek,” jawabnya mantap.
“Wah, cita-cita yang bagus. Dulu Kakek hanya ingin jadi petani.”
“Memangnya tidak capek, Kek?”
“Capek, tapi itulah cara Kakek menjalani hidup.”

Ziyad berpikir sejenak, lalu bertanya lagi, “Kenapa tidak jadi pengusaha saja? Kan uangnya banyak.”

Kakek tersenyum, lalu berkata pelan, “Bekerja itu bukan hanya soal mencari uang, tetapi juga tentang tanggung jawab. Kita harus yakin dengan pilihan kita, bukan semata karena hasilnya, tetapi juga manfaatnya bagi orang lain. Petani misalnya, tanpa petani, tidak akan ada padi. Sopir juga, tanpa mereka barang tidak akan sampai. Kakek tahu menjadi petani itu tidak mudah, tetapi Kakek senang melihat orang-orang bisa makan dari hasil panen Kakek.”

Lalu kakek pun melanjutkan, “Begitu juga ayahmu. Ia menjadi dosen agar bisa membagikan ilmu yang dimilikinya.”

“Kalau pengusaha bisa apa, Kek?” tanya Ziyad lagi.
“Pengusaha adalah orang yang terus berusaha. Ia membangun dan mengembangkan usahanya, sedikit demi sedikit, sambil bersaing dengan yang lain. Kakek berharap kamu bisa menjadi pengusaha yang sukses. Tapi ingat, perjalananmu masih panjang. Banyak hal yang belum kamu ketahui, jadi kamu harus terus belajar.”

Ziyad mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan hanya tentang cita-cita, tetapi juga tentang proses panjang untuk mencapainya.

Sore itu, langkah kecilnya terasa lebih mantap. Ia tahu, di perjalanan yang panjang nanti, ia akan belajar banyak hal hingga akhirnya mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Oleh: Azami




Friday, March 13, 2026

Jangan Tunggu Ramadhan untuk Beribadah

 


Dikisahkan dalam kitab Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan al-Khubawi tentang seorang laki-laki bernama Muhammad. Dalam kesehariannya ia hampir tidak pernah melaksanakan shalat. Namun ketika bulan Ramadhan tiba, ia memuliakan bulan tersebut dengan sungguh-sungguh. Ia memakai pakaian terbaiknya, menggunakan wewangian, memperbanyak ibadah, dan berusaha mengqadha shalat yang selama 11 bulan sebelumnya tidak ia kerjakan.

Ia melakukan semua itu dengan satu harapan: semoga Allah berkenan mengampuninya.

Suatu ketika laki-laki itu meninggal dunia. Diceritakan bahwa ada seorang alim yang bermimpi bertemu dengannya, lalu menanyakan keadaannya di akhirat. Dalam mimpi tersebut ia menjawab bahwa Allah telah mengampuninya dan memberinya kebaikan karena penghormatan serta ibadah yang ia lakukan pada bulan Ramadhan.

Dari kisah ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa kesempatan untuk memperbanyak ibadah selalu terbuka, baik ketika muda maupun ketika telah tua, baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Seorang Muslim tidak seharusnya hanya menjadi orang saleh pada bulan Ramadhan saja, lalu kembali lalai pada bulan-bulan lainnya.

Seringkali seseorang menunda shalat, ibadah, atau perbuatan baik dengan alasan masih muda atau menunggu datangnya Ramadhan. Padahal ia lupa bahwa kematian bisa datang kapan saja, tanpa memandang usia. Bagaimana jika seseorang meninggal sebelum sempat menjumpai Ramadhan yang ia tunggu?

Ramadhan memang bulan yang istimewa. Pada bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Di dalamnya Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, pahala amal kebaikan dilipatgandakan, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki diri dan memperbanyak ibadah, sekaligus menjadi awal untuk menjaga kebaikan tersebut pada bulan-bulan berikutnya.

Oleh: Rizky


Wednesday, March 11, 2026

Dulu, Di Hari Minggu



ALLAHUAKBAR… ALLAHUAKBAR…

Adzan Subuh berkumandang dari masjid, suaranya menggema ke seluruh kampung yang masih sunyi. Udara pagi masih dingin. Di kamar kecilnya, Dika masih terlelap di bawah selimut.

“Dek… bangun. Ayo sholat Subuh di masjid,” ujar ayahnya sambil menepuk pelan bahunya.

Dika membuka mata sambil menguceknya.
“Hmmm… iya Yah…” jawabnya setengah mengantuk.

Ia pun bangun, lalu berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Setelah itu, Dika berjalan bersama ayahnya menuju masjid. Jalanan kampung masih sepi, hanya terdengar suara ayam berkokok dan langkah kaki mereka di jalan kecil yang masih basah oleh embun.

Sepulang dari masjid, Dika langsung menuju ruang tengah.

“Yah, kartunnya sudah mau mulai!” katanya sambil cepat-cepat menyalakan TV.

Kartun kesukaannya, “Monkey and Trunk”, memang selalu ia tunggu setiap pagi. Ia duduk di lantai sambil membuka snack waffle rasa coklat.

Saat kartunnya masuk iklan, suara ibunya terdengar dari dapur.

“Dik… ayo sarapan. Ibu sudah masakin telur dadar.”

“Iya Bu… sebentar,” jawab Dika.

Ia pun berlari kecil ke dapur. Di meja sudah ada nasi hangat dan telur dadar kesukaannya. Dika makan dengan cepat, sesekali melirik ke arah ruang TV, takut kalau kartunnya sudah mulai lagi. Ibunya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Setelah sarapan dan kartunnya selesai, Dika langsung keluar rumah. Matahari pagi sudah mulai terasa hangat.

“Dikaa… ayo main!” teriak Bima dari depan rumah.

“Sebentar, aku pakai sandal dulu!” jawab Dika.

Tak lama kemudian mereka sudah berkumpul di lapangan kecil dekat musala. Pagi itu mereka bermain macam-macam, seperti kejar-kejaran, petak umpet, lalu bermain bola dengan gawang dari sandal.

Kadang ada yang jatuh, kadang ada yang protes karena merasa bolanya masuk. Tapi sebentar saja, mereka sudah tertawa dan bermain lagi.

Saking asyiknya bermain, Dika tidak sadar waktu sudah mendekati siang.

“Dikaa… pulang dulu! Dzuhur!” teriak ibunya dari rumah.

“Iya Bu… bentar!” jawab Dika tanpa menghentikan permainannya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Pasti nanti dipanggil lagi tuh,” kata Bima.

Benar saja, tak lama kemudian suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih keras. Akhirnya Dika pulang. Ia makan siang, lalu berwudhu dan sholat Dzuhur.

Selesai sholat, Dika keluar lagi.

“Ayo main lagi!” katanya.

Siang itu mereka kembali bermain bola dan berlari-larian di gang. Waktu terasa cepat sekali. Ketika adzan Ashar terdengar dari masjid, permainan mereka baru berhenti.

Tak lama kemudian ibunya memanggil lagi agar Dika pulang untuk sholat Ashar. Setelah shalat, Dika keluar sebentar untuk bermain santai bersama teman-temannya di depan gang.

Langit perlahan berubah warna menjadi jingga. Angin sore terasa sejuk.

Tiba-tiba suara ibunya kembali terdengar dari rumah.

“Dikaa… pulang! Mandi! Mau Maghrib!”

“Sebentar Bu!” jawab Dika.

“Tidak ada sebentar-sebentar!” sahut ibunya.

Teman-temannya langsung tertawa.

“Sudah, kamu pulang saja. Nanti dimarahin,” kata Bima.

Dika pun berlari pulang. Badannya penuh keringat dan sedikit kotor setelah bermain seharian. Setelah mandi, tubuhnya terasa segar.

Tak lama kemudian adzan Maghrib berkumandang. Dika mengenakan sarung dan peci kecilnya, lalu berjalan ke masjid.

Ba’da Maghrib, ia dan teman-temannya duduk di serambi masjid untuk mengaji bersama ustaz. Mereka membaca Al-Qur’an satu per satu. Kadang ada yang masih terbata-bata, kadang juga salah membaca hingga membuat yang lain tersenyum kecil.

Setelah mengaji dan sholat Isya berjamaah, Dika pulang ke rumah. Ia membuka buku pelajaran dan belajar sebentar untuk persiapan sekolah besok.

Namun tak lama kemudian matanya mulai terasa berat.

“Sudah Dik, Tidur saja,” kata ibunya.

Dika menutup bukunya dan berbaring di tempat tidur. Angin malam masuk perlahan dari jendela.

Tidak lama kemudian ia sudah tertidur lelap, setelah hari yang penuh dengan bermain, belajar, dan kegiatan sederhana yang dulu terasa biasa saja, tetapi kini selalu terasa hangat ketika diingat kembali.

Oleh: Arsakha


Friday, March 6, 2026

Sebuah Roti Terakhir

 


Suatu sore, saat hujan turun sangat deras, Hakam dan Ghifar sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Karena hujan semakin lebat, Hakam pun menyuruh Ghifar untuk berhenti.

“Far, sebaiknya kita berhenti dulu. Kebetulan ada rumah di depan,” kata Hakam.

“Iya, kita berhenti di rumah itu saja,” jawab Ghifar.

Akhirnya mereka menepi di rumah tersebut. Hakam lalu mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah seorang nenek bersama dua orang cucunya. Yang satu kira-kira berusia enam tahun, dan yang satunya lagi sekitar empat tahun.

“Maaf, Nek. Kami boleh berteduh sebentar di sini?” kata Hakam.

“Oh iya, silakan masuk, Nak,” jawab nenek itu dengan ramah.

Mereka pun masuk dan dipersilakan duduk.

“Silakan duduk dulu, Nak,” kata nenek.

“Iya, Nek,” jawab Ghifar.

Beberapa saat kemudian, nenek itu datang kembali sambil membawa beberapa potong roti dan menyuguhkannya kepada mereka.

“Silakan dimakan, Nak,” kata nenek.

“Terima kasih, Nek,” jawab Ghifar.

Hakam dan Ghifar pun mencoba roti itu. Namun, rasanya sangat manis, bahkan seperti memakan gula merah dalam jumlah banyak. Rasanya membuat mereka kurang selera untuk menghabiskannya.

Tiba-tiba anak yang berusia empat tahun tadi menangis, lalu neneknya menenangkannya. Saat itulah Hakam diam-diam melempar roti yang ia pegang ke teras rumah. Kakak dari anak kecil itu hanya melihat Hakam, tetapi tetap diam.

Setelah cukup lama menunggu, akhirnya hujan pun reda dan mereka bisa melanjutkan perjalanan.

“Nek, kami pamit dulu,” kata Hakam.

“Oh iya, Nak. Hati-hati di jalan,” jawab nenek.

Mereka pun menyalakan motor dan melanjutkan perjalanan. Namun, setelah agak jauh dari rumah itu, Hakam baru sadar bahwa ponselnya tertinggal.

“Far, putar balik dulu. HP-ku ketinggalan,” kata Hakam.

Mereka pun kembali ke rumah tadi. Saat Hakam mengambil ponselnya, tanpa sengaja ia melihat anak kecil yang tadi mengambil roti yang ia buang ke teras, lalu memakannya.

Melihat hal itu, Hakam merasa sangat kasihan. Ia pun memberikan sedikit uang kepada anak tersebut sambil berkata, “Ini untuk beli makanan, ya.”

Saat itu Hakam baru menyadari bahwa sesuatu yang menurut kita tidak terlalu berharga, ternyata bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain. Mungkin hanya itu yang mereka miliki, bahkan mereka rela memberikannya demi menghormati tamu.

Oleh: Azami

Tuesday, March 3, 2026

Amal Dengan Ikhlas


 Kalau sudah memulai satu amal ibadah, usahakan untuk menjaganya tetap berjalan. Tidak harus besar, tidak perlu terlihat hebat. Yang penting konsisten. Karena amal yang paling Allah cintai adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّوَكَانَتْ عَائِشَةُ إِذَا عَمِلَتِ

الْعَمَلَ لَزِمَتْهُ (رواه مسلم)

Artinya: Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit. Dan Aisyah jika melakukan suatu amalan, beliau menetapinya.

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Allah tidak “bosan” sampai kalian bosan. Para ulama, di antaranya Imam Nawawi, menjelaskan bahwa maksudnya bukan Allah benar-benar bosan, tetapi Allah tidak akan memutus rahmat dan pahala-Nya selama hamba itu tidak berhenti beramal.

Namun ada satu hal yang lebih penting dari sekadar banyak atau sedikitnya amal: keikhlasan. Amal tanpa ikhlas ibarat angka nol. Shalat nol, sedekah nol, membaca Al-Qur’an nol. Dikumpulkan sebanyak apa pun tetap nol. Tapi ketika ada ikhlas, ia seperti angka satu di depan deretan nol itu. Nilainya langsung berubah, berlipat-lipat.

Jadi, jangan terlalu sibuk mengejar banyaknya amal sampai lupa menjaganya tetap hidup. Lebih baik sedikit tapi istiqomah, sederhana tapi tulus. Karena yang Allah nilai bukan hanya gerakannya, tapi juga hatinya.

Oleh: Nashirin


Friday, February 27, 2026

Menjadi pemimpin yang baik


 Ketika mendengar kata pemimpin, kebanyakan orang langsung teringat pada presiden, pejabat, wali kota, atau tokoh besar lainnya. Padahal, makna pemimpin tidak terbatas pada jabatan tinggi. Pemimpin adalah seseorang yang memimpin, membimbing, dan bertanggung jawab atas suatu kelompok dalam menjalani kehidupan. Dalam Islam, pemimpin tidak hanya bertugas mengatur, tetapi juga menjaga amanah dan menjalankan tanggung jawab sesuai dengan ajaran agama.

Lalu, bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik? Jawabannya adalah dengan meneladani Nabi Muhammad ﷺ. Beliau merupakan pemimpin terbaik bagi umat Islam. Dalam memimpin, Nabi Muhammad ﷺ selalu bersikap adil dan bijaksana, tanpa membedakan antara yang kaya dan yang miskin, yang dekat maupun yang jauh. Semua diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sayang.

Sikap ini menjadi prinsip penting yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin, yaitu tidak membeda-bedakan manusia karena harta atau kedudukannya. Selain itu, kita juga dapat meneladani para Khulafaur Rasyidin, yaitu para sahabat Nabi yang melanjutkan kepemimpinan umat Islam setelah beliau wafat. Mereka memimpin dengan berpegang teguh pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu contoh yang terkenal adalah Khalifah Umar bin Khattab. Beliau dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan tidak hidup bermewah-mewahan. Umar bin Khattab lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya. Beliau juga sangat dekat dengan kaum fakir miskin dan selalu memastikan bahwa mereka mendapatkan haknya. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang adil dan peduli terhadap rakyatnya.

Para pemimpin tersebut tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Mereka memimpin dengan keikhlasan, menjaga amanah, dan berpegang teguh pada sunnah Nabi. Karena itulah, masyarakat yang mereka pimpin dapat hidup dengan aman, adil, dan sejahtera.

Dari semua itu, kita dapat memahami bahwa seorang pemimpin tidak harus kaya harta, tetapi harus kaya akhlak. Akhlak yang baik, keadilan, dan rasa tanggung jawab adalah kunci utama dalam kepemimpinan. Sebab, ketika seorang pemimpin berlaku buruk, maka dampaknya akan dirasakan oleh seluruh masyarakat yang dipimpinnya. Sebaliknya, jika pemimpin berlaku adil dan amanah, maka kebaikan akan dirasakan oleh semuanya.

Menjadi pemimpin yang baik bukanlah hal yang mustahil. Setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Dengan meneladani Nabi Muhammad ﷺ, menjaga amanah, dan berpegang pada ajaran Islam, kita dapat menjadi pemimpin yang adil, bijaksana, dan membawa kebaikan bagi orang lain.

Oleh: Azami