Tuesday, February 3, 2026

Karena Meninggalkanya Kita Kembali Terpuruk


Dahulu, Rasulullah ﷺ menguatkan umat Islam dengan Al-Qur’an. pemudanya ditarbiyah baik-baik dengan totalitas. Bukan hanya sekedar mempelajari atau menghafalkan, namun berlomba-lomba mentadabburi dan mengamalkan. Maka wajar bila kita menjumpai kisah-kisah hebat dari para Sahabat, Mereka kuat dan disegani oleh lawan. Mereka menanggalkan gemerlap kehidupan dunia demi mengejar kehidupan abadi. Sehingga mereka menjadi pemuda akhirat, bukan pemuda dunia.


Dalam waktu lebih dari dua dekade, Islam berdiri sebagai pondasi peradaban yang kokoh. Kota jahiliyah Makkah berhasil ditaklukkan, dan cahaya Islam membentang hingga menundukkan negeri-negeri adidaya pada masanya: Persia, Romawi, dan Yaman. Islam disegani oleh lawan, dan dicintai oleh kawan.


Apa kunci keberhasilan mereka? Seluruh keberhasilan itu bukan karena jumlah, harta, atau kekuatan fisik, melainkan karena kedekatan mereka dengan Allah dan Al-Qur’an. Mereka mengaplikasikan seluruh tuntunan Islam dalam kehidupan. Mereka lekat dengan Al-Qur’an sebagaimana manusia hari ini lekat dengan gawai di tangan.


Sejak bagun hingga tidur lagi, mereka selalu membahas Al-Qur’an. Ucapan dan perbuatan mereka selalu mengandung unsur kebermanfaatan. Maka lahirlah banyak pengetahuan dan para ilmuwan, penguasa yang bijak, negeri yang tentram, tanah yang sejahtera, dan kehidupan yang tenang.


Namun, ketika berbagai fitnah menyerang.. satu persatu pejuang Islam diwafatkan, lalu digantikan oleh generasi yang tidak lagi menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Mereka mulai menoleh dunia, cinta berlebihan, hingga hati dipenuhi kegelisahan, bukan lagi ketenangan.


Fashion menjadi candu, hingga lupa cara berpenampilan sederhana.

Food menjadi hobi baru, sibuk mencicipi segala rasa hingga tak tahu lagi berpuasa.

Gadget menjadi kebutuhan dan sahabat sejati setiap hari, hingga Al-Qur’an tersingkir dan berdebu dalam lemari.


Syukur-syukur jika sehari membaca satu ayat, kenyataannya masih banyak yang seharian tak menyentuh Al-Qur’an sama sekali. Memikirkan bukan mahram menjadi hal yang lumrah, bahkan menangisinya dianggap wajar. sementara menangisi dosa sendiri justru dianggap berlebihan.


Inilah yang membuat generasi kita lalai dan lemah. Hingga mudah didikte oleh kaum kafir, dimana medianya lebih kita percaya daripada Al-Qur’an. Publik figur-nya kita jadikan panutan, bukan lagi Nabi ﷺ, para sahabat, dan Ulama. Gaya hidupnya menjadi kebanggaan, sementara gaya hidup Islam dianggap kuno dan tidak toleran. Bahkan pemeluknya dicitrakan sebagai ancaman (teroris).


Dan kita, sesama muslim, sering kali hanya diam. Tak berani membela, karena sibuk dengan urusan masing-masing.


Namun, Islam tidak pernah mundur.

Mungkin yang mundur adalah jarak kita dengannya.


Al-Qur’an masih utuh, ayat-ayatnya masih sama.

Yang berubah hanyalah tangan yang tak lagi menggenggamnya,

dan hati yang tak lagi rindu kepadanya.


Jika dahulu satu ayat mampu menggerakkan dunia,

hari ini dunia menggerakkan kita menjauh dari ayat.


Lalu, sebelum kita menuntut Islam kembali berjaya,

sudahkah kita kembali menjadi hamba yang taat?


Atau jangan-jangan,

kita sedang menunggu cahaya menyinari hidup kita,

malah justru kita sendiri yang menjauhinya.


Oleh: Falah


Friday, January 30, 2026

Apa Itu Ikhlas?

 


Dalam Islam, ikhlas adalah pondasi dari setiap amal. Sebesar apapun kebaikan yang kita lakukan, jika tidak disertai keikhlasan karena Allah, maka nilainya bisa menjadi sia-sia. Sebaliknya, amal yang terlihat kecil dapat bernilai besar di sisi Allah jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.


Ikhlas berarti melakukan sesuatu semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji, dihargai, atau dilihat manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:

“إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ".
( رواه البخاري ومسلم)

Hadist ini menegaskan bahwa niat adalah kunci utama diterimanya amal.


Di zaman sekarang, ikhlas menjadi tantangan tersendiri. Media sosial, pujian, dan pengakuan sering membuat hati kita goyah. Tanpa sadar, niat yang awalnya karena Allah bisa berubah menjadi ingin dilihat orang lain (riya’).


Karena itu, penting bagi kita untuk sering bertanya pada diri sendiri:

“Untuk siapa aku melakukan ini?”


Beberapa langkah sederhana untuk menjaga dan melatih keikhlasan:


  •  Luruskan niat sebelum beramal

  •  Sembunyikan sebagian amal kebaikan

  •  Tidak kecewa saat tidak diapresiasi manusia

  •  Banyak berdoa agar diberi hati yang ikhlas

  • Mengingat bahwa balasan terbaik hanya dari Allah


Keikhlasan memang tidak mudah, tetapi bisa dilatih dengan kesadaran dan muhasabah.


Orang yang ikhlas akan merasakan:


  • Hati yang ringan dan damai

  • Tidak mudah sakit hati

  • Hidup lebih sederhana dan fokus pada akhirat

  • Amal terasa lebih bermakna


Ikhlas membebaskan kita dari ketergantungan pada penilaian manusia.


Mari kita belajar ikhlas, meski perlahan. Tidak perlu menunggu sempurna, karena Allah Maha Mengetahui setiap niat di dalam hati. Semoga setiap langkah kecil kita bernilai besar di sisi-Nya.


Oleh: Zacky


Tuesday, January 27, 2026

Menyiapkan Hati di Bulan Sya‘ban


Bulan Sya‘ban merupakan bulan yang sering kali terlewatkan oleh banyak orang. Padahal, bagi para salafus shalih, Sya‘ban merupakan bulan persiapan hati sebelum memasuki bulan suci bulan Ramadhan. Jika Ramadhan adalah musim panen, maka Sya‘ban adalah waktu kita untuk mengolah tanah dan membersihkannya dari rerumputan.

Hati adalah pusat segala amal. Rasulullah ﷺ bersabda,


أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ. رواه البخاري ومسلم


“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim).


 Maka membersihkan hati di bulan Sya‘ban menjadi perkara yang sangat penting, agar ketika Ramadhan datang, hati sudah siap menerima cahaya ibadah, bukan justru sibuk dengan penyakit-penyakit batin.

Penyakit hati seperti hasad, dengki, riya’, ujub, dendam, dan cinta dunia yang berlebihan sering kali tidak terasa, namun dampaknya sangat besar. Ia mengeraskan hati, melemahkan keikhlasan, dan mengurangi manisnya ibadah. Betapa banyak orang yang secara lahiriah berpuasa, namun hatinya masih dipenuhi kebencian dan iri terhadap sesama. Maka Sya‘ban adalah momentum untuk muhasabah, menundukkan ego, dan memohon kepada Allah agar disucikan batin kita.


Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada bulan Sya‘ban, amal-amal diangkat kepada Allah. 


يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَىٰ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ


Artinya: Allah ‘azza wa jalla melihat (amalan) hamba-Nya pada malam pertengahan bulan Sya’ban, maka Ia mengampuni semua makhluknya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan (HR At-Thabrani).  


Para ulama memahami bahwa inilah salah satu hikmah memperbanyak amal dan taubat di bulan ini, agar ketika catatan amal diangkat, hati kita berada dalam keadaan bersih dan penuh penyesalan atas dosa. Membersihkan hati bukan hanya dengan banyak istighfar di lisan, tetapi juga dengan memaafkan sesama, meluruskan niat, dan menjauhkan diri dari permusuhan.


Bagi seorang santri, bulan Sya‘ban adalah waktu untuk memperbaiki hubungan: hubungan dengan Allah melalui taubat dan doa, serta hubungan dengan manusia melalui akhlak dan adab. Santri diajarkan bahwa ilmu dan ibadah tidak akan bercahaya jika hati masih gelap. Maka sebelum Ramadhan tiba, hati perlu disapu, dibasuh, dan ditata agar layak menjadi tempat turunnya rahmat.


Jangan sampai bulan Ramadhan hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi bulan perubahan. Puasa terasa mudah tidak ada paksaan, Al-Qur’an terasa dekat, dan doa mengalir dengan penuh harap. Semoga Allah memberi kita taufik untuk memanfaatkan bulan Sya‘ban dengan sebaik-baiknya, membersihkan hati dengan sungguh-sungguh, agar ketika Ramadhan datang, kita termasuk hamba-hamba yang siap menyambutnya dengan hati yang hidup dan penuh cahaya.


Oleh: Naim


Friday, January 23, 2026

Jejak Shalahuddin Menaklukkan Yerusalem


Pada periode ini, Shalahuddin banyak menghabiskan waktunya untuk bertempur melawan pasukan Salib. Ia tidak pernah mengenal rasa lelah demi tegaknya agama Islam. Pertempuran yang dialami Shalahuddin memiliki sejarah panjang. Konflik antara kaum Muslimin dan tentara Salib, meskipun sesekali diwarnai dengan perdamaian yang sering dilanggar oleh tentara Salib, terus mewarnai lembaran perjuangan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Pertempuran pertama yang dipimpinnya adalah melawan Amalric I, Raja Yerusalem. Selanjutnya, ia berhadapan dengan Baldwin IV (putra Amalric I), Reynald de Chatillon (penguasa Benteng Karak), dan Baldwin V. Selain itu, Shalahuddin berhasil menaklukkan beberapa kota penting, antara lain Tiberias, Nasirah, Gaza, Hebron, Yerusalem, Bethlehem, Busniah, dan Gunung Zaitun pada tahun 1187 M.

Shalahuddin selalu meraih kemenangan atas tentara Salib, hingga puncaknya ketika ia menaklukkan pasukan di Pertempuran Hittin, dekat Tiberias, pada tahun 1187 M. Kemenangan ini diikuti dengan penundukan wilayah Palestina, termasuk Acre, Nablus, Caesarea, Jaffa, Askalon, dan Beirut. Pertempuran tersebut diakhiri dengan perjanjian pada tahun 1192 M di Ramalah, dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Yerusalem tetap berada di tangan umat Islam, dan umat Kristen diizinkan menjalankan ibadah di tanah suci mereka.

  2. Tentara Salib mempertahankan wilayah pantai Suriah dan Tyre hingga Jaffa.

  3. Umat Islam mengembalikan harta rampasan Kristen kepada umat Kristen.

Oleh: Arsakha


Monday, January 19, 2026

Tausiyah Isra' Mi'raj Al Fattah Kudus 1447 H

Ahad, 18 Januari 2026 M. Lebih tepatnya 29 Rajab 1447 H. Pesantren kami ikut memperingati peringatan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ. Disela hujan deras dan bencana banjir di beberapa titik Kota Kudus, selaku panitia dan pihak pondok awalnya kebingungan terhadap cara merawuhkan Kyai Shomadi ke pesantren Al Fattah yang mana lokasi ndalem beliau ada di Kecamata Mejobo, Kudus. Disana sangat rawan akan banjir. Akan tetapi atas karunia dari Allah ternyata banjir disana sudah banyak yang surut sehingga ada akses transportasi yang bisa dilewati.


Di awal acara, guru kita semua yaitu Abah Aniq memberi washiat dan Ijazah Musalsal Talqin Bidz Dzikir kepada para santri. Dari jalur Abuya Ahmadi sambung kepada Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah yang mendapat musalsal tersebut dari Rasulullah ﷺ. Ijazah tersebut melaui bebepa cara yaitu mengucapkan kalimah ikhlas atau Lailahaillallah sebanyak 3x dengan suara nyaring seraya memejamkan mata lalu diikuti para santri yang mempraktekkan hal tersebut juga.


Rangkuman Tausiyah dari Kiyai Shomadi

Beliau ngebahas vibe perjuangan awal Islam sampai ke puncak kemuliaan Nabi ﷺ di malam Isra Mi'raj.


🛡️ Era Door-to-Door & Power Para Jagoan


Dulu, dakwah Nabi ﷺ itu ber gerilya dari pintu ke pintu. Nabi ﷺ sampai berdoa minta back-up orang kuat:

 (اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَدِ الْعُمَرَيْنِ)—


"Ya Allah, kuatkan Islam lewat salah satu dari dua Umar (Umar bin Khattab atau Abu Jahal)." Doa itu answered! Ditambah lagi moment heroic Sayyidina Hamzah. Pas tahu Nabi dihina Abu Jahal, beliau nggak pakai lama langsung samperin dan pukul kepala Abu Jahal pakai busur panah sampai bocor! Beliau bilang: "Lo berani hina dia? Aku sekarang di agamanya!" Sejak itu, mental umat Islam langsung up dan kaum haters mulai mikir seribu kali kalau mau bully Nabi.



Kalau kamu cinta orang sholeh, itu tanda ada good vibe di hatimu. Tapi kalau orang sholeh yang cinta sama kamu, itu tandanya ada "secret file" atau nur spesial di jiwamu. Jadi santri itu harusnya fans garis kerasnya ya Kyainya sendiri!


🚀 Isra Mi'raj: The Ultimate Space Trip


Percaya sama Isra Mi'raj itu wajib fardu ain, karena ini part dari Al-Qur'an:

 (سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا). 


Sebelum berangkat, hati Nabi ﷺ dicuci dulu pakai air terbaik, air zam-zam.

Nabi ﷺ naik Buraq yang speed-nya logic error—sekali melangkah sejauh mata memandang. Fisik Nabi ﷺ itu super strong (setara 40 laki-laki), makanya beliau nggak ada cindera apapun meski melaju secepat itu, kalau kita yang manusia biasa.... pasti organ tubuhnya akan tercerai berai. Di jalan, beliau ketemu spoiler dunia:

 * Nenek tua: Simbol kalau dunia ini sudah expired alias tua banget.


Panggilan Iblis: Nabi ﷺ ignore semua distraksi itu.


Stop-over Ibadah: Beliau sholat di Thaybah (calon tempat hijrah), Turisina (tempat Nabi Musa private talk sama Allah), dan Betlehem (tempat lahir Nabi Isa).


🥛 "Pilihan Fisabilillah: Milk Over Wine


Sebelum sampai di Masjidil Aqsha, Malaikat Jibril nawarin 3 bucket minuman: Susu, Khamr, dan Air. Nabi ﷺ fix pilih Susu. Malaikat Jibril langsung bilang: (اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ)— "Kamu milih Fitrah!" Susu itu pure, healthy, dan nggak bikin hangover. Itu simbol kalau ajaran Islam itu straight, clean, dan menenangkan. Kalau pilih khamr, umatnya bakal chaos kena fitnah terus dan banyak minum khamr. Kalau beliau pilih air, maka ummat nya banyak yang kebanjiran 


❤️Sholat itu Moment Me-Time bareng Allah



Yai Shomadi ngingetin kita kalau Sholat itu adalah hadiah biar kita bisa ngerasain nikmat-nya ketemu Allah, sama kayak nikmat-nya Nabi pas Mi'raj.


 * Level 1 (Mukasyafah): Sholatnya para Wali yang sudah "melihat" kebesaran Allah.



 * Level 2 (Muraqabah): Merasa selalu di-monitoring Allah.


 * Level 3 (Wujub): Yang penting gugur kewajiban (ini minimal banget).

Oleh : Ust. M. Faizunnas

Friday, January 16, 2026

Di Pinggiran Kota


 Di sebuah desa yang terletak di lereng gunung, hiduplah sebuah keluarga sederhana. Keluarga itu memiliki seorang anak bernama Fatih, anak yang dikenal rajin dan cerdas. Sejak muda, Fatih mengabdikan dirinya dengan mengajar anak-anak mengaji di kampungnya.

Seiring berjalannya waktu, usia Fatih pun bertambah. Ia mulai menyadari bahwa sudah saatnya ia bekerja dan membantu keluarganya. Pada suatu malam, ketika ayahnya sedang duduk di teras rumah, Fatih dipanggil untuk berbincang.

Fatih kemudian duduk di samping ayahnya.
“Nak, usiamu sudah cukup dewasa. Apa kamu tidak ingin bekerja?” tanya ayahnya dengan nada lembut.
“Sebenarnya saya sudah mendaftar di sebuah perusahaan besar, Yah. Hanya saja masih bingung kapan harus berangkat,” jawab Fatih.
“Kalau begitu, besok saja. Tidak ada salahnya bersegera,” kata ayahnya.

Mendengar itu, Fatih segera mengemasi barang-barangnya malam itu juga. Ia berharap keesokan pagi dapat segera berangkat.

Keesokan paginya, ayah Fatih berdiri di depan rumah.
“Nak, cepat! Nanti terlambat!” serunya.
“Iya, Yah!” jawab Fatih dari dalam rumah.

Ayah pun mengantarkan Fatih menuju terminal bus dengan sepeda motor tuanya. Suasana pagi yang sejuk dan indah seolah menjadi salam perpisahan bagi Fatih. Deru mesin motor ayahnya menemani perjalanan mereka hingga sampai di terminal.

Tak terasa, saat perpisahan pun tiba. Ayah Fatih berpesan,
“Semangat, Nak. Semoga berhasil. Jangan tinggalkan sholat. Tetaplah berbuat baik meskipun kamu disakiti. Semoga Allah melindungimu.”

Bus mulai berjalan, membawa Fatih menuju kota besar dan lingkungan baru. Desa kelahirannya perlahan menghilang dari pandangan. Sepanjang perjalanan, Fatih hanya memegang erat Al-Qur’an kecil kesayangannya, yang setia menemani langkahnya merantau.

Setelah perjalanan panjang, Fatih akhirnya tiba di ibu kota yang megah dan ramai. Hujan menyambut kedatangannya. Ia melihat suasana dan gaya hidup yang sangat berbeda.
“Ternyata di kota banyak kendaraan mewah,” batinnya.

Setelah turun dari bus, ia melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju kos.
“Di kota semewah ini ternyata angkot masih ada,” pikirnya sambil tersenyum. Perjalanan ia lalui dengan mengobrol bersama sopir angkot. Tak lama kemudian, ia pun sampai di kos, mengemasi barang-barangnya, lalu beristirahat untuk menghadapi hari esok.

Tak terasa, sekitar lima tahun berlalu. Hidup Fatih berubah drastis. Ia telah memiliki rumah dan mobil, serta kehidupan yang berkecukupan. Kemewahan kota menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun, ada hal yang mengusik hatinya. Fatih mulai jarang mendengar suara azan. Kegiatan keagamaan seperti pengajian dan majelis ilmu hampir tak pernah ia temui. Yang ia rasakan justru kemacetan, polusi, dan gaya hidup bebas yang perlahan menjauhkannya dari agama.

Suatu hari, Fatih mencoba mengungkapkan kegelisahannya kepada teman kantor.
“Ah, ini kota besar, bukan desa. Wajar kalau agama jarang kelihatan. Kalau mau yang religius, mending jadi orang desa saja,” jawab temannya.

Fatih hanya bisa beristighfar dan terus berdoa kepada Allah agar diberikan jalan keluar.

Sore itu, saat hendak pulang, Fatih dihampiri rekan kerjanya bernama Qodir.
“Tih, mau pulang?” tanya Qodir.
“Iya,” jawab Fatih.
“Kok belakangan kamu kelihatan bingung?”

Fatih pun menceritakan semuanya. Qodir mengangguk memahami.
“Memang kemewahan kota sering membuat orang jauh dari agama. Tapi kalau kamu mau, di pinggiran kota ada pengajian. Nih, aku share lock.”

Dengan penuh semangat, Fatih segera bersiap dan berangkat. Sesampainya di sana, ia mengikuti pengajian dengan khidmat. Hatinya terasa tenang dan bahagia karena dapat kembali mendekat kepada agamanya.

Dari pengalaman itu, Fatih menyadari bahwa kemewahan dapat menjadi ujian. Jika tidak disikapi dengan iman, kemewahan bisa menjauhkan seseorang dari agama, bahkan perlahan menghilangkannya dari dalam diri.

Oleh: Azami



Tuesday, January 13, 2026

Shalahuddin al-Ayyubi dan Dinamika Kekuasaan di Mesir

 


Sejak Shalahuddin memimpin Mesir, pengaruh dan kewibawaannya semakin besar. Hal ini menimbulkan rasa iri di kalangan tertentu. Mereka kemudian menyampaikan laporan kepada Nuruddin Zanki bahwa Shalahuddin berniat merebut Mesir dari kekuasaannya. Mendengar kabar tersebut, Nuruddin merasa tidak terima. Ia pun menyiapkan pasukan bersenjata untuk menyerang Mesir dan menurunkan Shalahuddin dari tahtanya.

Rencana penyerangan itu segera diketahui oleh Shalahuddin. Ia bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dengan mengerahkan seluruh kekuatan militernya. Padahal, pada saat yang sama, musuh-musuh Islam sedang menyusun strategi besar untuk menyerbu dan menguasai wilayah-wilayah Islam. Namun, sebelum Nuruddin sempat melancarkan penyerbuan ke Mesir, ia wafat di Damaskus pada tahun 596 H.

Untuk mempertahankan Mesir dari ancaman pengikut Fatimiyah serta menghadapi pasukan Salib di Suriah dan Palestina, Shalahuddin mendirikan sebuah benteng di atas Bukit Muqattam, Kairo. Benteng tersebut dikenal dengan nama Benteng Salah El-Din al-Ayyubi. Selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan, benteng ini juga menjadi kubu pertahanan militer yang kuat dalam menghadapi serangan dari luar. Shalahuddin juga merencanakan penghubungan benteng ini dengan perbentengan Kairo kuno peninggalan Dinasti Fatimiyah, sehingga wilayah pertahanan diperluas hingga memagari Kota Fustat sepanjang Sungai Nil.

Oleh: Arsakha