Salah satu keberagaman yang ada di pesantren adalah model model santri yang sangat jamak. Ada kang Jarno yang tidur tiduran melulu, ada yang biasa biasa saja, ada juga kang Peno yang seperti wali, tiap ada waktu kosong selalu di gunakan untuk hal positif, kadang mendaras hafalannya, kadang mutholaah kitab, yang paling menakjubkan adalah keistiqomahannya bangun malam untuk sholat malam dan mendaras Alquran, bukan hanya rajin, tapi kang Peno selalu khusuk kalau sedang membaca Alquran, ayat tiap ayat dia hayati maknanya. begitulah kira kira gambaran sosok kang Peno, sosok yang menurut saya sangat layak di jadikan role model untuk para santri, khususnya penghafal Alquran.
Pagi itu, saat sedang asik dengan Alquran, tibaa tiba datang kang Jarno dan kang Songko yang baru saja pulang dari makan lentok,
“Wuih, kang Peno ini Masyaallah”, sapa kang Songko.
“Waduh waduh, sampai ngak denger,”, karena sangking khusuknya, kang Peno sampai tidak merespon.
Kang Songko yang sapaannya tidak di respon, menepuk bahu kang Peno.
“Ada apa kang?” kata kang Peno setengah kaget.
“Nggak ada apa apa sih kang sebenernya, cuma kagum saja sama kang Peno ini”
“Apa sih kang yang bisa di kagumi dari saya ini” kang Peno memang sangat rendah hati.
“Ya kagum saja kang, kang Peno ini kan selain istiqomah juga selalu khusuk kalau membaca Alquran, rahasianya apa tho kang?”
“Ngak ada rahasianya kang”
“Kalo saya kog susah ya kang kalo mau istiqomah”
“Sampean mau istiqomah?”
“Iya dong kang”, jawab Kang Songko antusias.
“Sampean kalo mengaji kalo mendaras itu niatnya apa?”, tanya kang Peno.
“kalo ngaji ya biar pintar, kalo baca Alquran ya biar hafalan saya lancar”
“Terus kalo sudah pintar, kalo sudah lancar?”
“Ya Alhamdulillah dong kang”
“Maksutnya….., kalo sampean Sudah pintar sudah lancar, nggak mau ngaji, nggak mau mendaras lagi?”
“Ya nggak gitu juga kang”
“Kalo mau istiqomah itu kita jangan niat biar begini biar begini, kalo kita niatkan untuk apa apa, nanti takutnya kalo kita sudah mencapai apa apa itu, kita jadi malas lagi”
“Terus gimana kang niat yang bener?”
“Ya niat ngak karena apa apa, niat saja karena Allah, kita mengaji bisa jadi pintar, kita mendaras bisa jadi lancar, itu bonus dari Allah, kalo misal kita nggak pintar pintar, kita ngak lancar lancar, kan kita bakal masih mengaji dan mendaras terus tho, jadi meski kita nggak pintar atau nggak lancar, seengaknya kita masih dapat pahala” kang Peno menghela nafas sejenak lalu melanjutkan kalimatnya.
“Tapi kalo mau aman, kita niat saja seperti niat niat orang sholeh terdahulu”, lanjut kang Peno.
di tengah obrolan asik kedua santri tersebut, tiba tiba terdengar suara dengkuran, yang usut punya usut adalah kang Jarno.
0 comments: